Feeds:
Tulisan
Komentar

Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit rahimahullah berkata:
“Bila aku mengatakan sebuah ucapan yang menyelisihi Kitabullah dan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka tinggalkanlah ucapanku.”

Al Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya aku tidak lain adalah manusia yang bisa salah dan bisa benar. Hendaknya kalian teliti pendapatku. Segala pendapatku yang sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah maka ambillah. Adapun yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah maka tinggalkanlah.”

Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rahimahullah berkata:
“Tidak ada seorangpun kecuali dia lupa atau tidak mengetahui sebagian Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Oleh karena itu, bagaimanapun pendapat yang aku ucapkan, atau kaidah ushul yang aku buat, namun ternyata dalam hal itu ada sesuatu (hadits) dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang menyelisihi pendapatku, maka pendapat yang benar adalah yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan itu pula yang menjadi pendapatku.”

Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
“Pendapat Al Auza’i, pendapat Malik, pendapat Abu Hanifah, semuanya adalah pendapat (manusia). Semuanya sama menurutku. Yang menjadi hujjah hanyalah apa yang terdapat dalam atsar (yakni hadits, pent.).”

(Diambil dari Shifat Shalatin Nabi shallallahu alaihi wa sallam, karya Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, hal. 46-53)
Majalah Asy Syariah, No. 40/IV/1429 H/2008

Rabu, 25 Maret 2009 - 20:01:57,  Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah AbdurrahmanKategori : Akidah

Slogan ‘waktu adalah uang’ telah demikian mendarah daging dalam hidup mayoritas manusia serta menjadi prinsip yang mengiringi aktivitas mereka. Bukan sekadar slogan yang kosong dari makna, karena berbagai macam cara pun akan ditempuh manusia untuk mengejar apa yang dinamakan dengan uang. “Gunung kan kudaki, lautan kan kuseberangi. Lembah akan kulalui, bahkan mati akan kuhadapi,” kata mereka.
Ada manusia, yang tak peduli siang ataupun malam, terus-menerus waktunya disibukkan dengan mencari uang. Para wanita sampai melelang kehormatannya, menjatuhkan martabatnya karenanya juga. Ringkasnya, hidup adalah uang.
Para pedagang, pekerja, dan pengusaha, berusaha meramal hidupnya melalui paranormal juga karena uang yang akan dikejar. Mereka ngalap berkah di kuburan tertentu, juga untuk mendapatkan penghasilan dan jalan hidup yang beruntung, menurut mereka. Berkunjung ke tempat-tempat keramat dengan mempersembahkan berbagai jenis sesaji juga karenanya. Lanjut Baca »

Abdullah bin Mas’ud Rodiyallahu ‘anhu :

“Sederhana dalam Sunnah* (menjalankan ajaran Rasulullah) lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam kebid’ahan.”

Ubai bin Ka’ab Rodiyallahu ‘anhu :

“Kamu harus berpegang dengan jalan Allah dan As Sunnah. Sesungguhnya orang yang (berjalan) di atas jalan Allah dan As Sunnah kemudian dia mengingat Ar-Rahman (Allah) hingga air matanya menetes karena takut kepada-Nya, tidak akan tersentuh api neraka. Sesungguhnya sederhana dalam jalan Allah dan As Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam kebid’ahan.”

Sufyan Ats-Tsauri Rohimahullah :

“Hai Yusuf ! Jika ada seorang Ahlus Sunnah dari negeri timur maka sampaikan salamku kepadanya, dan jika ada seorang Ahlus Sunnah dari negeri barat maka sampaikan salamku kepadanya. Sungguh Ahlus Sunnah wal Jamaah sangat sedikit jumlahnya.”

Yunus bin Abil A’la Rohimahullah :

Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata,”Jika aku melihat seorang lelaki Ahli Hadits seolah aku melihat shahabat Nabi.” (Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, 33-34)

Al-Auza’i Rohimahullah :

“Kami berjalan ke mana As Sunnah berjalan.”

(Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Imam Al-Lalikai, 1/64)

Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud Rohimahullah :

“Kamu tidak akan salah selamanya asal kamu di atas As Sunnah.”

(At-Thabaqat, 1/71, Al-Hujajul Qawiyyah, 30)

Umar bin Abdul ‘Aziz Rohimahullah :

“Kamu haruslah komitmen dengan As Sunnah, sesungguhnya As Sunnah menjagamu dengan ijin Allah.”

(Al-Hilyah, 5/338, Al-Hujajul Qawiyyah,30)

* Definisi As Sunnah adalah mengamalkan Al Qur’an dan Hadits serta mengikuti pendahulu yang shalih serta berittiba’ (berteladan) dengan jejak mereka (lihat Asy Syariah edisi 04 hal. 13)

Sumber : Majalah As Syariah, edisi No.05/I/Jumadil Akhir 1424 H/Agustus 2003 halaman 1

Alhamdulillah, shalawat dan salam bagi teladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Umat Islam setelah berlalu masa kebaikan dan masa keemasannya selagi khulafaurasyidin berkuasa mulai dihinggapi penyakit perpecahan. Berbagai aqidah bi’dah dan kesyirikan mulai merembes dan merusak keutuhan aqidah Islam.

Diantara fenomena yang menonjol hingga saat ini adalah perbuatan tabarruk (mencari berkah) terhadap orang-orang shaleh, pada peninggalan mereka, pada waktu dan tempat tertentu yang terkait dengannya.

Lanjut Baca »

SIHIR DAN PERDUKUNAN

Akhir-akhir ini banyak tukang ramal yang mengaku dirinya sebagai tabib/dokter, dan mengobati orang sakit dengan jalan sihir atau perdukunan. Mereka kini banyak tersebar di berbagai negeri. Orang-orang awam yang tidak mengerti sudah banyak yang menjadi korban pemerasan mereka. Maka sebagai nasehat yang ikhlas untuk Allah, kamudian untuk para hamba-Nya, kami ingin menjelaskan tentang betapa besar bahayanya terhadap Islam dan umat Islam, oleh adanya ketergantungan kepada selain Allah, serta bertolak belakang dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Dengan memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kami katakan bahwa berobat dibolehkan menurut kesepakatan para ulama. Seorang muslim hendaklah berusaha mendatangi dokter yang ahli, baik penyakit dalam, pembedahan, saraf, maupun penyakit luar lainnya untuk diperiksa apa penyakit yang diderita, dan kemudian diobati sesuai dengan obat-obat yang dibolehkan oleh syariat sebagaimana yang dikenal oleh ilmu kedokteran. Dilihat dari segi sebab dan akibat yang biasa berlaku, hal ini tidak bertentangan dengan ajaran tawakal kepada Allah dalam Islam. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya. Sebagian manusia ada yang mengetahuinya dan ada sebagian yang lain tidak mengetahuinya. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan penyembuhannya dari sesuatu yang telah diharamkan kepada mereka.

Lanjut Baca »

Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc

Taat kepada pemerintah dalam perkara kebaikan. Inilah salah satu prinsip agama yang kini telah banyak dilupakan dan ditinggalkan umat. Yang kini banyak dilakukan justru berupaya mencari keburukan pemerintah sebanyak-banyaknya untuk kemudian disebarkan ke masyarakat. Akibat buruk dari ditinggalkannya prinsip ini sudah banyak kita rasakan. Satu di antaranya adalah munculnya perpecahan di kalangan umat Islam saat menentukan awal Ramadhan atau Hari Raya.

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Hari-harinya diliputi suasana ibadah; shaum, shalat tarawih, bacaan Al-Qur`an, dan sebagainya. Sebuah fenomena yang tak didapati di bulan-bulan selainnya. Tak ayal, bila kedatangannya menjadi dambaan, dan kepergiannya meninggalkan kesan yang mendalam. Tak kalah istimewanya, ternyata bulan suci Ramadhan juga sebagai salah satu syi’ar kebersamaan umat Islam. Secara bersama-sama mereka melakukan shaum Ramadhan; dengan menahan diri dari rasa lapar, dahaga dan dorongan hawa nafsu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, serta mengisi malam-malamnya dengan shalat tarawih dan berbagai macam ibadah lainnya. Tak hanya kita umat Islam di Indonesia yang merasakannya. Bahkan seluruh umat Islam di penjuru dunia pun turut merasakan dan memilikinya.

Lanjut Baca »

Soal 1 : Perkara apa yang seyogyanya dikerjakan dan wajib bagi seorang yang menjalankan puasa Ramadhan ?


Jawab : Seyogyanya bagi seorang yang menjalankan puasa Ramadhan untuk memperbanyak amalan ketaatan dan menjauhi seluruh perkara yang dilarang. Wajib baginya memelihara perkara-perkara yang diwajibkan dan menjauhkan dirinya dari perkara yang diharamkan. Menjalankan sholat
lima waktu tepat pada waktunya dengan berjamaah bersama kaum muslimin di masjid. Meninggalkan kedustaan, ghibah, penipuan dan amal riba serta seluruh perkataan dan perbuatan yang diharamkan. (Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin).

Lanjut Baca »

Adab-Adab Berpuasa

Penulis: Al-Ustadz Abu Abdirrahman Al-Bugisi

A. Makan Sahur


Orang yang berpuasa sangat dianjurkan untuk makan sahur. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Amru bin Al-‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحُوْرِ

“Perbedaan antara puasa kami dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Dari Salman radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْبَرَكَةُ فِيْ ثَلاَثَةٍ: الْجَمَاعَةِ وَالثَّرِيْدِ وَالسَّحُوْرِ

“Berkah ada pada 3 hal: berjamaah, tsarid (roti remas yang direndam dalam kuah), dan makan sahur.” (HR. Ath-Thabrani, 6/251, dengan sanad yang hasan dengan penguatnya, lihat Shifat Shaum An-Nabi oleh Ali Al-Halabi, hal. 44)

Lanjut Baca »

Penulis: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.

Ada sejumlah persoalan yang sering menjadi perselisihan di antara kaum muslimin seputar pembatal-pembatal puasa. Di antaranya memang ada yang menjadi permasalahan yang diper-selisihkan di antara para ulama, namun ada pula hanya sekedar anggapan yang berlebih-lebihan dan tidak dibangun di atas dalil.

Melalui tulisan ini akan dikupas beberapa permasalahan yang oleh sebagian umat dianggap sebagai pembatal puasa namun sesungguhnya tidak demikian. Kete-rangan-keterangan yang dibawakan nantinya sebagian besar diambilkan dari kitab Fatawa Ramadhan -cetakan pertama dari penerbit Adhwaa’ As-salaf- yang berisi kumpulan fatwa para ulama seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan lain-lain rahimahumullahu ajma’in.Di antara faidah yang bisa kita ambil dari kitab tersebut adalah:

Lanjut Baca »

Sahur dan Berbuka

Penulis: Al-Ustadz Hariyadi, Lc.

Para pembaca hafizhakumullahu wa yarhamukum (semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga dan merahmati anda semua). Ketahuilah, banyak pribadi muslim yang menyatakan: “Saya cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” Dan mereka pun ingin mendapatkan kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala. Pernyataan tersebut sangat mudah untuk diucapkan, akan tetapi dalam pengamalannya tentu saja memerlukan pengorbanan yang besar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammd): ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)

Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »