Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Konon kabarnya, nenek moyang bangsa Indonesia sebelum datangnya Islam ke nusantara adalah kaum paganisme dan animisme. Mereka mempercayai adanya kekuatan gaib pada sebagian makhluk dan benda-benda. Kepercayaan ini sudah berakar kuat pada mayoritas manusia pada zaman itu. Saking kuatnya keyakinan ini, tak heran jika kepercayaan seperti ini masih tersisa dan memiliki pengaruh pada sebagian besar masyarakat muslim di era moderen ini.

Adanya keyakinan kepada benda-benda masih terlihat di masyarakat, akibat pengaruh paganisme dan animisme. Lihatlah, sebagian masyarakat kita masih mempertahankan ajaran kejawen yang berisi keyakinan-keyakinan batil, walaupun ia telah masuk Islam. Di Sulsel sendiri masih ada sekelompok manusia yang masih mempertahankan keyakinan mereka yang sarat dengan keyakinan paganisme dan animisme; mereka istilahkan dengan “attau riolongeng” (adat istiadat nenek moyang), seperti memperingati dan merayakan hari kematian (haulan) seseorang, mempercayai kekuatan benda-benda, meyakini hari-hari tertentu sebagai hari bahagia atau hari celaka, mempersembahkan sesuatu kepada penjaga (bau rekso) yang ada di suatu tempat menurut keyakinan batil mereka.

Lanjut Baca »

Rabu, 26 Januari 2005 – 21:25:42 :: kategori Manhaj
Penulis: Asy Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz
.: :.
Wahabi Pelanjut Gerakan Salaf Ahlussunnah wal Jama’ah

Kelompok Wahabi –demikian istilah yang dipakai oleh penulis di berita mingguan urdu itu- bukanlah kelompok baru dalam menyatakan salahnya acara-acara bid’ah semacam ini. (Wahabi dinisbahkan kepada pengikut seorang hamba Allah, Abdul Wahhab, yakni Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, red)

Akidah Wahabi dilandaskan pada :
a. Berpegang teguh kepada kitab Allah.
b. Berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah.
c. Berjalan pada garis ajaran Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam dan garis ajaran Khulafa’ Rasyidin setelah beliau serta para Tabi’in dan
d. Meniti jejak para ulama’ al-Salaf al-Sholih, para imam terkemuka dalam Islam, yaitu para ahli fiqih dan taqwa.

Inilah landasan Akidah Wahhabi dalam hal Ma’rifatullah dan Itsbatush Shifah (penetapan sifat-sifat ke-Maha Sempurnaan dan ke-Maha Agungan Allah ) yang diturunkan oleh al-Qur’an dan tertera dalam hadits-hadits shahih serta yang dipegang teguh oleh para sahabat Rasul- Shalallahu ‘alaihi wassalam-. Wahabi menetapkan, mengimani dan menerima apa adanya sifat-sifat Allah itu :
- Tanpa tahrif (mengubahnya)
- Tanpa ta’thil (meniadakan ma’nanya)
- Tanpa takyif(mempertanyakan bagaimana atau mengandaikannya), dan
- Tanpa tamtsil (menyerupakan dengan sifat-sifat Makhluk).
Wahabi berpegang pada dasar-dasar aqidah yang dianut oleh para ahlul ‘ilmi wat-taqwa generasi pendahulu(salaf) dan para imam umat ini yaitu para tabi’in dan pengikut setia mereka, mereka mengimani bahwa dasar dan fondasi iman adalah :

شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله
Artinya: Kesaksian bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.

Syahadat ini adalah dasar iman, ia harus mengandung ilmu (pengertian dan keyakinan), amal(tindakan) dan pernyataan lesan, sebagaimana hal itu telah menjadi ijma’ umat Islam.

Kandungan arti syahadat ini adalah :
a. Kewajiban beribadah (mengabdi) kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan
b. Bara’ah (berlepas diri) dari penyembah kepada selain Allah, apapun dan siapapun dia.
Inilah hikmah (Inti tujuan ) diciptakannya Jin dan Manusia. Untuk tujuan ini pula para Rasul diutus dan kitab-kitab Ilahi diturunkan.

Syahadat ini juga mengandung :
a. Puncak (klimaks) rasa rendah dan rasa cita kepada Allah semata, dan
b. Puncak (klimaks) rasa taat dan pengagungan kepada-Nya.
Lanjut Baca »

Rabu, 26 Januari 2005 – 21:22:39 :: kategori Manhaj
Penulis: Asy Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz
.: :.
Kembali Kepada Al-Qur’an Dan As-Sunnah Dalam Menentukan Hukum

Sebagai mana dimaklumi dari kaidah syar’i bahwa penentuan halal atau haram dan pemutusan perselisihan dalam hal ini hendaklah dengan merujuk kepada kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala :
}يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا{ سورة النساء الآية : 59
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu . Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kiamat, demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik sesudahnya”. (QS An Nisaa 59)

Allah Ta’ala berfirman :
}وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِë{سورة الشورى الآية : 10
Artinya : “Apapun yang kamu perselisihkan, maka putusannya (hendaklah di kembalikan) kepada Allah”. (QS Asy Syuura 10)

Jika kita kembalikan masalah penyelenggaraan maulid atau semacamnya ini kepada Kitab Allah , maka kita dapati al-Qur’an menyuruh kita mengikuti Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam segala apa yang beliau bawa. Al-Qur’an pun memberi peringatan keras terhadap apa yang beliau larang Al-Qur’an juga memberi informasi kepada kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan agama, untuk umat ini, yang wajib mereka anut. Sementara, acara maulid atau semacamnya bukanlah termasuk ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Dengan demikian, berarti amalan ini diluar ajaran agama Islam yang sudah Allah sempurnakan untuk kita dan dia perintahkan kepada kita untuk mengikuti Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam melaksanakannya.

Lalu, jika kita kembalikan hal ini kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, maka kita pun tidak mendapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan atau merintahkannya. Begitu pula para Sahabat beliau-radhiallahu ‘anhum- tidak pernah melakukannya, dengan demikian kita ketahui dengan yakin bahwa pengadaan maulid atau semacamnya bukanlah dari ajaran Islam. Bahkan justru tegolong bid’ah yang diada-adakan, dan tergolong meniru secara buta kepada ahli kitab dari kalangan oarang-orang Yahudi maupun Nasrani dalam upacara-upacara hari besar mereka.

Dari keterangan diatas jelaslah bagi orang yang memiliki pemgetahuan walaupun sedikit, dan memiliki minat pada kebenaran serta memiliki sikap adil dan obyektif dalam mencari kebenaran .bahwa penyelenggaraan hari lahir, dengan segala macamnya , adalah diluar ajaran Islam bahkan tergolong bid’ah, yang kita diperintah Allah dan Rasulnya untuk meninggalkan dan berhati-hati agar tidak terpelosok didalamnya.

Lanjut Baca »

Rabu, 26 Januari 2005 – 21:01:58 :: kategori Manhaj
Penulis: Asy Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz
.: :.
Kewajiban Berpegang Teguh Terhadap As-Sunnah Dan Waspada Terhadap Bid’ah

Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan untuk kita agama ini dan telah mencukupkan untuk kita nikmat-Nya, serta telah meridhai Islam sebagai agama kita.Shalawat dan salam sejahtera semoga tetap terlimpah kepada Muhammad, hamba dan Rasul-Nya yang menyeru menuju ketaatan kepada Tuhannya, sekaligus menyampaikan peringatan keras terhadap sikap berlebihan (ghuluw) bid’ah dan maksiat. Semoga shalawat dari Allah tetap terlimpah kepada beliau, kepada keluarga dan sahabat serta umat beliau yang berjalan pada garis beliau dan mengikuti ajaran beliau hingga hari kiamat.

Sebuah Makalah Di Mingguan Idarat (India) Bermuatan Misi Serangan Terhadap Negara Pendukung Salaf

Telah saya telaah sebuah makalah yang dimuat di warta mingguan Idarat (dalam bahasa Urdu) yang terbit di kota Kanvoor, sebuah kota industri di daerah Attabaradish, pada halaman muka. makalah itu bermuatan serangan lewat media massa untuk menghantam kerajaan Saudi Arabia yang hingga kini tetap berpegang pada Akidah Islam yang dianutnya, dan menyatakan perang terhadap aneka bid’ah. Lebih dari itu, Makalah ini telah menunding aqidah Salaf, yang selama ini menjadi garis haluan Pemerintah Saudi, sebagai ajaran diluar aqidah sunni. Di balik tulisan ini, rupanya penulis makalah tersebut bertujuan memecah belah golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan memotivasi munculnya berbagai bid’ah dan khurafat.

Tidak diragukan lagi, bahwa ini adalah suatu siasat licik dan ulah yang berbahaya yang bertujuan melecehkan Islam dan menyebar luaskan berbagai bid’ah dan ajaran sesat.
Kemudian secara jelas ,makalah itu menitik-beratkan pembahasannya pada masalah penyelenggaran acara maulid Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan menjadikan masalah ini titik tolak untuk mengorek aqidah Pemerintahan Saudi.

Oleh sebab itu, saya pandang perlu mengungkap masalah ini dengan memberikan penjelasan yang semestinya, seraya memohon pertolongan dari Allah Ta’ala.

Lanjut Baca »

Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit rahimahullah berkata:
“Bila aku mengatakan sebuah ucapan yang menyelisihi Kitabullah dan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka tinggalkanlah ucapanku.”

Al Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya aku tidak lain adalah manusia yang bisa salah dan bisa benar. Hendaknya kalian teliti pendapatku. Segala pendapatku yang sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah maka ambillah. Adapun yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah maka tinggalkanlah.”

Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rahimahullah berkata:
“Tidak ada seorangpun kecuali dia lupa atau tidak mengetahui sebagian Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Oleh karena itu, bagaimanapun pendapat yang aku ucapkan, atau kaidah ushul yang aku buat, namun ternyata dalam hal itu ada sesuatu (hadits) dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang menyelisihi pendapatku, maka pendapat yang benar adalah yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan itu pula yang menjadi pendapatku.”

Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
“Pendapat Al Auza’i, pendapat Malik, pendapat Abu Hanifah, semuanya adalah pendapat (manusia). Semuanya sama menurutku. Yang menjadi hujjah hanyalah apa yang terdapat dalam atsar (yakni hadits, pent.).”

(Diambil dari Shifat Shalatin Nabi shallallahu alaihi wa sallam, karya Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, hal. 46-53)
Majalah Asy Syariah, No. 40/IV/1429 H/2008

Rabu, 25 Maret 2009 - 20:01:57,  Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah AbdurrahmanKategori : Akidah

Slogan ‘waktu adalah uang’ telah demikian mendarah daging dalam hidup mayoritas manusia serta menjadi prinsip yang mengiringi aktivitas mereka. Bukan sekadar slogan yang kosong dari makna, karena berbagai macam cara pun akan ditempuh manusia untuk mengejar apa yang dinamakan dengan uang. “Gunung kan kudaki, lautan kan kuseberangi. Lembah akan kulalui, bahkan mati akan kuhadapi,” kata mereka.
Ada manusia, yang tak peduli siang ataupun malam, terus-menerus waktunya disibukkan dengan mencari uang. Para wanita sampai melelang kehormatannya, menjatuhkan martabatnya karenanya juga. Ringkasnya, hidup adalah uang.
Para pedagang, pekerja, dan pengusaha, berusaha meramal hidupnya melalui paranormal juga karena uang yang akan dikejar. Mereka ngalap berkah di kuburan tertentu, juga untuk mendapatkan penghasilan dan jalan hidup yang beruntung, menurut mereka. Berkunjung ke tempat-tempat keramat dengan mempersembahkan berbagai jenis sesaji juga karenanya. Lanjut Baca »

Abdullah bin Mas’ud Rodiyallahu ‘anhu :

“Sederhana dalam Sunnah* (menjalankan ajaran Rasulullah) lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam kebid’ahan.”

Ubai bin Ka’ab Rodiyallahu ‘anhu :

“Kamu harus berpegang dengan jalan Allah dan As Sunnah. Sesungguhnya orang yang (berjalan) di atas jalan Allah dan As Sunnah kemudian dia mengingat Ar-Rahman (Allah) hingga air matanya menetes karena takut kepada-Nya, tidak akan tersentuh api neraka. Sesungguhnya sederhana dalam jalan Allah dan As Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam kebid’ahan.”

Sufyan Ats-Tsauri Rohimahullah :

“Hai Yusuf ! Jika ada seorang Ahlus Sunnah dari negeri timur maka sampaikan salamku kepadanya, dan jika ada seorang Ahlus Sunnah dari negeri barat maka sampaikan salamku kepadanya. Sungguh Ahlus Sunnah wal Jamaah sangat sedikit jumlahnya.”

Yunus bin Abil A’la Rohimahullah :

Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata,”Jika aku melihat seorang lelaki Ahli Hadits seolah aku melihat shahabat Nabi.” (Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, 33-34)

Al-Auza’i Rohimahullah :

“Kami berjalan ke mana As Sunnah berjalan.”

(Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Imam Al-Lalikai, 1/64)

Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud Rohimahullah :

“Kamu tidak akan salah selamanya asal kamu di atas As Sunnah.”

(At-Thabaqat, 1/71, Al-Hujajul Qawiyyah, 30)

Umar bin Abdul ‘Aziz Rohimahullah :

“Kamu haruslah komitmen dengan As Sunnah, sesungguhnya As Sunnah menjagamu dengan ijin Allah.”

(Al-Hilyah, 5/338, Al-Hujajul Qawiyyah,30)

* Definisi As Sunnah adalah mengamalkan Al Qur’an dan Hadits serta mengikuti pendahulu yang shalih serta berittiba’ (berteladan) dengan jejak mereka (lihat Asy Syariah edisi 04 hal. 13)

Sumber : Majalah As Syariah, edisi No.05/I/Jumadil Akhir 1424 H/Agustus 2003 halaman 1

Alhamdulillah, shalawat dan salam bagi teladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Umat Islam setelah berlalu masa kebaikan dan masa keemasannya selagi khulafaurasyidin berkuasa mulai dihinggapi penyakit perpecahan. Berbagai aqidah bi’dah dan kesyirikan mulai merembes dan merusak keutuhan aqidah Islam.

Diantara fenomena yang menonjol hingga saat ini adalah perbuatan tabarruk (mencari berkah) terhadap orang-orang shaleh, pada peninggalan mereka, pada waktu dan tempat tertentu yang terkait dengannya.

Lanjut Baca »

SIHIR DAN PERDUKUNAN

Akhir-akhir ini banyak tukang ramal yang mengaku dirinya sebagai tabib/dokter, dan mengobati orang sakit dengan jalan sihir atau perdukunan. Mereka kini banyak tersebar di berbagai negeri. Orang-orang awam yang tidak mengerti sudah banyak yang menjadi korban pemerasan mereka. Maka sebagai nasehat yang ikhlas untuk Allah, kamudian untuk para hamba-Nya, kami ingin menjelaskan tentang betapa besar bahayanya terhadap Islam dan umat Islam, oleh adanya ketergantungan kepada selain Allah, serta bertolak belakang dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Dengan memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kami katakan bahwa berobat dibolehkan menurut kesepakatan para ulama. Seorang muslim hendaklah berusaha mendatangi dokter yang ahli, baik penyakit dalam, pembedahan, saraf, maupun penyakit luar lainnya untuk diperiksa apa penyakit yang diderita, dan kemudian diobati sesuai dengan obat-obat yang dibolehkan oleh syariat sebagaimana yang dikenal oleh ilmu kedokteran. Dilihat dari segi sebab dan akibat yang biasa berlaku, hal ini tidak bertentangan dengan ajaran tawakal kepada Allah dalam Islam. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya. Sebagian manusia ada yang mengetahuinya dan ada sebagian yang lain tidak mengetahuinya. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan penyembuhannya dari sesuatu yang telah diharamkan kepada mereka.

Lanjut Baca »

Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc

Taat kepada pemerintah dalam perkara kebaikan. Inilah salah satu prinsip agama yang kini telah banyak dilupakan dan ditinggalkan umat. Yang kini banyak dilakukan justru berupaya mencari keburukan pemerintah sebanyak-banyaknya untuk kemudian disebarkan ke masyarakat. Akibat buruk dari ditinggalkannya prinsip ini sudah banyak kita rasakan. Satu di antaranya adalah munculnya perpecahan di kalangan umat Islam saat menentukan awal Ramadhan atau Hari Raya.

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Hari-harinya diliputi suasana ibadah; shaum, shalat tarawih, bacaan Al-Qur`an, dan sebagainya. Sebuah fenomena yang tak didapati di bulan-bulan selainnya. Tak ayal, bila kedatangannya menjadi dambaan, dan kepergiannya meninggalkan kesan yang mendalam. Tak kalah istimewanya, ternyata bulan suci Ramadhan juga sebagai salah satu syi’ar kebersamaan umat Islam. Secara bersama-sama mereka melakukan shaum Ramadhan; dengan menahan diri dari rasa lapar, dahaga dan dorongan hawa nafsu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, serta mengisi malam-malamnya dengan shalat tarawih dan berbagai macam ibadah lainnya. Tak hanya kita umat Islam di Indonesia yang merasakannya. Bahkan seluruh umat Islam di penjuru dunia pun turut merasakan dan memilikinya.

Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.