<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Salafy Pomalaa</title>
	<atom:link href="http://salafypomalaa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salafypomalaa.wordpress.com</link>
	<description>Mendakwahkan Manhaj Salafus Sholeh</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Feb 2011 00:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='salafypomalaa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Salafy Pomalaa</title>
		<link>http://salafypomalaa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://salafypomalaa.wordpress.com/osd.xml" title="Salafy Pomalaa" />
	<atom:link rel='hub' href='http://salafypomalaa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Memangkas Jimat, Meluruskan Keyakinan</title>
		<link>http://salafypomalaa.wordpress.com/2010/03/05/memangkas-jimat-meluruskan-keyakinan/</link>
		<comments>http://salafypomalaa.wordpress.com/2010/03/05/memangkas-jimat-meluruskan-keyakinan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 11:24:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafypomalaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafypomalaa.wordpress.com/2010/03/05/memangkas-jimat-meluruskan-keyakinan/</guid>
		<description><![CDATA[Konon kabarnya, nenek moyang bangsa Indonesia sebelum datangnya Islam ke nusantara adalah kaum paganisme dan animisme. Mereka mempercayai adanya kekuatan gaib pada sebagian makhluk dan benda-benda. Kepercayaan ini sudah berakar kuat pada mayoritas manusia pada zaman itu. Saking kuatnya keyakinan ini, tak heran jika kepercayaan seperti ini masih tersisa dan memiliki pengaruh pada sebagian besar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=240&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konon kabarnya, nenek moyang bangsa Indonesia sebelum datangnya Islam ke nusantara adalah kaum paganisme dan animisme. Mereka mempercayai adanya kekuatan gaib pada sebagian makhluk dan benda-benda. Kepercayaan ini sudah berakar kuat pada mayoritas manusia pada zaman itu. Saking kuatnya keyakinan ini, tak heran jika kepercayaan seperti ini masih tersisa dan memiliki pengaruh pada sebagian besar masyarakat muslim di era moderen ini.</p>
<p>Adanya keyakinan kepada benda-benda masih terlihat di masyarakat, akibat pengaruh paganisme dan animisme. Lihatlah, sebagian masyarakat kita masih mempertahankan ajaran kejawen yang berisi keyakinan-keyakinan batil, walaupun ia telah masuk Islam. Di Sulsel sendiri masih ada sekelompok manusia yang masih mempertahankan keyakinan mereka yang sarat dengan keyakinan paganisme dan animisme; mereka istilahkan dengan <strong><em>&#8220;attau riolongeng&#8221;</em></strong> (adat istiadat nenek moyang), seperti memperingati dan merayakan hari kematian (haulan) seseorang, mempercayai kekuatan benda-benda, meyakini hari-hari tertentu sebagai hari bahagia atau hari celaka, mempersembahkan sesuatu kepada penjaga (bau rekso) yang ada di suatu tempat menurut keyakinan batil mereka.</p>
<p><span id="more-240"></span></p>
<p>Banyak macam dan ragam dari ajaran-ajaran batil menyusup ke dalam agama Allah disebabkan sebagian orang yang mengaku muslim tak mau melepas ajaran nenek moyangnya yang batil lagi menyimpang. Lantaran itu, timbullah keyakinan bahwa jimat mempunyai pengaruh bagi kebahagian dan kecelakaan bagi seseorang.</p>
<p>Fenomena yang terjadi di zaman sekarang hanyalah sejarah yang berulang dari zaman ke zaman. Hanya terkadang bentuk dan istilahnya yang beragam. Di zaman Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- sendiri pernah terjadi hal dan keyakinan seperti ini pada sebagian sahabat yang masuk Islam. Namun Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- tak mendiamkan hal itu, beliau langsung menegur dan meluruskannya.</p>
<p>Sahabat Abu Basyir Al-Anshoriy -<em>radhiyallahu anhu</em>- berkata bahwa,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ, فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولاً: أَنْ لَا يَبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلَادَةٌ مِنْ وَتَرٍ أَوْ قِلَادَةٌ إِلَّا قُطِعَتْ </span></strong></span></p>
<p><em> &#8220;Dia pernah bersama Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pada sebagian safar beliau. Kemudian Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengutus seorang utusan untuk menyampaikan pesan, &#8220;Jangan lagi tersisa kalung yang terbuat dari tali busur ataukah kalung apa saja pada leher onta, kecuali diputuskan&#8221;. </em> [HR. Al-Bukhoriy dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (3005), dan Muslim dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (2115)]</p>
<p>Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- melarang para sahabat untuk mengikuti kebiasaan orang-orang jahiliyah, yaitu kebiasaan menggantungkan tali pada pada hewan-hewan tunggangan sebagai jimat yang bisa menolak bala’ dan penyakit menurut keyakinan mereka yang batil. Sebab mereka (orang-orang jahiliyah) meyakini bahwa jika ia menggantungkan seutas tali busur pada leher hewan, maka ia akan terhindar dari penyakit. Ini adalah keyakinan jahiliyah!!</p>
<p><strong> Abul Qosim Al-Azhariy</strong> -<em>rahimahullah</em>- berkata, <em>&#8220;Konon kabarnya, orang-orang jahiliyah dahulu mengalungkan tali busur pada hewan (sebagai jimat) untuk mencegah ain (sejenis penyakit yang timbul karena pengaruh mata). Akhirnya merekapun dilarang. Adapun mengalungkan tali pada leher binatang untuk keindahan (hiasan), maka hal itu tak mengapa&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Al-Muntaqo Syarh Al-Muwaththo'</em></strong> (4/351), karya Abul Walid Al-Bajiy]</p>
<p>Keyakinan jahiliyah seperti ini telah dihapuskan oleh Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-. Oleh karena itu, Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- melarang dan mengingatkan akan dosa dan bahaya menggantung jimat pada badan, rumah, mobil, dan lainnya. Menggantungkan dan memakai jimat termasuk kesyirikan yang bertentangan dengan inti ajaran Islam, yakni tauhid. Sebab seorang yang memakai jimat pasti meyakini bahwa jimat itulah yang menyebabkan ia terhindar dari penyakit dan bala’. Jadi, menurut keyakinan ini bahwa ada makhluk yang mampu menjaga dan melindungi seseorang dari penyakit di samping Allah -Ta’ala-. Jelas ini adalah syirik.</p>
<p>Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- bersabda,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ</span></strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"><strong> [ أخرجه أبو داود </strong></span></span><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"><strong>( 3883 )</strong><span style="font-size:medium;"><strong> و ابن ماجه </strong></span><strong>( 3530 )</strong><span style="font-size:medium;"><strong> و ابن حبان </strong></span><strong>( 1412 )</strong><span style="font-size:medium;"><strong> و أحمد </strong></span><strong>( 1 / 381 )</strong><span style="font-size:medium;"><strong>,وصححه الألباني في الصحيحة (رقم:</strong></span><strong>331</strong><span style="font-size:medium;"><strong> و</strong></span><strong>2972</strong><span style="font-size:medium;"><strong>)] </strong></span></span></p>
<p><em> &#8220;Sesungguhnya mantra-mantra, jimat, dan guna-guna (pelet) adalah kesyirikan&#8221;.</em> [HR. Ahmad dalam <strong><em>Al-Musnad</em></strong> (1/381), Abu Dawud dalam <strong><em>Sunan</em></strong>-nya (3883), Ibnu Majah dalam <strong><em>Sunan</em></strong>-nya (3530), dan Ibnu Hibban dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (1412), dan Al-Hakim dalam <strong><em>Al-Mustadrok</em></strong> (4/217 &amp; 418). Syaikh Al-Albaniy men-<em>shohih</em>-kan hadits ini dalam <strong><em>Ash-Shohihah</em></strong> (331 &amp; 2972)]</p>
<p>Jampi-jampi (ruqyah) jika berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka itu adalah perkara yang boleh dan disyari’atkan dalam Islam. Adapun apabila ruqyah (jampi) yang biasa kita sebut dengan <strong><em>&#8220;mantra-mantra&#8221;</em></strong> yang berisi doa kepada selain Allah, maka ini adalah ruqyah yang terlarang. Demikian pula, bila ruqyah-nya berasal dari kata-kata yang tidak bisa dipahami maknanya, maka ini juga terlarang, sebab dikhawatirkan di dalamnya terdapat kata-kata kafir atau syirik. [Lihat <strong><em>At-Tamhid</em></strong> (hal. 108) oleh Syaikh Sholih At-Tamimiy, 1423 H]</p>
<p>Adapun masalah jimat dan guna-guna, maka permasalahannya jelas; keduanya terlarang dalam agama kita, sebab dalam pemakaian jimat terdapat ketergantungan dan keyakinan kepada selain Allah. Sedang ini adalah syirik (menduakan Allah). Sementara guna-guna adalah sihir yang digunakan untuk merukunkan seseorang dengan pasangannya atau sebaliknya. Sihir sendiri telah jelas haram dalam Islam secara mutlak. Anda jangan tertipu dengan sebagian orang yang menyatakan ini sihir hitam, dan itu sihir putih. Ketahuilah ini adalah tipuan setan, sebab semua sihir, apapun namanya tetaplah hitam. Mengapa demikian? Sebab semua sihir adalah perkara yang diharamkan dalam agama Allah. <strong> Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy</strong> -<em>rahimahullah</em>- berkata dalam menjelaskan sebabnya Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- melarang untuk menggunakan jimat, <em>&#8220;Demikian itu karena mereka (orang-orang jahiliyah) dahulu mengikatkan tali dan kalung-kalung tersebut sebagai jimat. Mereka menggantungkan pada tali itu mantra-mantra (rajah-rajah), sedang mereka menyangka bahwa jimat-jimat itu bisa melindungi mereka dari berbagai macam penyakit. Karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang mereka dari menggunakan jimat-jimat, dan memberitahukan mereka bahwa jimat-jimat itu tidak bisa menolak keputusan (taqdir) Allah sedikitpun&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Aunul Ma'bud Syarh Sunan Abi Dawud</em></strong> (5/151)]</p>
<p>Seorang yang menggunakan jimat termasuk orang yang berbuat syirik. Oleh karena itu, Allah tidak akan memberikannya pertolongan dan kesembuhan. Allah akan membiarkannya dan meninggalkannya, tanpa penolong. <strong> Isa bin Abdir Rahman Al-Anshoriy</strong> berkata, <em>&#8220;Aku pernah masuk menemui Abdullah bin Ukaim Abu Ma’bad Al-Juhaniy untuk menjenguk beliau, sedang pada beliau terdapat penyakit pembengkakan (sejenis tho’un). Kami katakan, &#8220;Kenapa anda tidak menggantung sesuatu (yakni, jimat)?&#8221;. Beliau menjawab, &#8220;Kematian lebih dekat dari hal itu. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,</em></p>
<p><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ [ أخرجه أحمد في مسنده (4/310 &amp; 311) الترمذي في سننه (2073), والحاكم في المستدرك على الصحيحين (4/216), وحسنه الألباني في غاية المرام (297)] </span></strong> <em></em></span></p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa menggantungkan sesuatu (yakni, jimat), maka ia akan dibiarkan kepada sesuatu itu&#8221;.</em> [HR. Ahmad dalam <strong><em>Al-Musnad</em></strong> (4/310 &amp; 311), At-Tirmidziy dalam<strong><em> Sunan</em></strong>-nya (2073),dan Al-Hakim dalam <strong><em>Al-Mustadrok ala Ash-Shohihain</em></strong> (4/216). Syaikh Al-Albaniy meng-<em>hasan</em>-kan hadits ini dalam <strong><em>Ghoyah Al-Marom</em></strong> (297)]</p>
<p><strong>Ibnul Atsir Al-Jazariy</strong> -<em>rahimahullah</em>- berkata dalam menjelaskan makna hadits di atas, <em>&#8220;Maksudnya, barangsiapa yang menggantungkan sesuatu pada dirinya berupa rajah-rajah, jimat-jimat, dan sejenisnya, sedang ia meyakini bahwa hal-hal itu bisa mendatangkan manfaat baginya atau menolak gangguan (bala’) darinya&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>An-Nihayah fi Ghoribil Hadits</em></strong> (3/556)]</p>
<p>Menggunakan jimat, baik pada badan, rumah, maupun yang lainnya termasuk dosa besar di sisi Allah dan Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-. Tak heran bila Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- pernah berlepas diri dari orang yang menggunakan jimat. Ruwaifi’ bin Tsabit -<em>radhiyallahu anhu</em>- berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">عن رويفع قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رُوَيْفِعُ لَعَلَّ الْحَيَاةَ سَتَطُولُ بِكَ بَعْدِي فَأَخْبِرْ النَّاسَ أَنَّهُ مَنْ عَقَدَ لِحْيَتَهُ أَوْ تَقَلَّدَ وَتَرًا أَوْ اسْتَنْجَى بِرَجِيعِ دَابَّةٍ أَوْ عَظْمٍ فَإِنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُ بَرِيءٌ [أخرجه أحمد في مسنده </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">(4/108-109)</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">أبو داود في سننه - </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">(36)</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">, والنسائي في سننه </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">(4981)</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">, وصححه الألباني في صحيح الجامع الصغير (رقم: </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">7910</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">)] </span></strong></span></p>
<p><em>&#8220;Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah bersabda kepadaku, &#8220;Wahai Ruwaifi’, barangkali umurmu akan panjang setelahku. Karenanya, kabarilah manusia bahwa barangsiapa yang memilin jenggotnya atau mengalungkan tali (yakni, jimat) atau ia cebok dengan menggunakan kotoran hewan atau tulang, maka sesungguhnya Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- berlepas diri darinya&#8221;.</em> [HR. Ahmad dalam <strong><em>Al-Musnad</em></strong> (4/108 &amp; 109), Abu Dawud dalam <strong><em>As-Sunan</em></strong> (36), dan An-Nasa'iy dalam <strong><em>As-Sunan</em></strong> (4981). Di-<em>shohih</em>-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam <strong><em>Shohih Al-Jami' Ash-Shoghier </em></strong>(7910)]</p>
<p>Berlepas dirinya Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- dari orang yang menggantungkan dan menggunakan jimat menunjukkan besarnya permasalahan jimat. Lantaran itu, sebagian ulama menjelaskan bahwa seorang terkadang yang memakai jimat keluar dari Islam, bila ia meyakini bahwa jimat itu yang menolak bala’ atau mendatangkan manfaat. Adapun bila ia memakai jimat, dan menyangka bahwa jimat itu adalah sebab Allah menolak bala’ darinya, maka ini juga syirik. Hanya saja tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. Pengingkaran Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- atas orang-orang yang memakai jimat adalah perkara masyhur di kalangan salaf. Seorang Pembesar Ulama Tabi’in, Abu Sulaiman Zaid bin Wahb Al-Juhaniy Al-Kufiy -<em>rahimahullah</em>- berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">اِنْطَلَقَ حُذَيْفَةُ إِلَى رَجُلٍ مِنَ النَّخَعِ يَعُوْدُهُ ، فَانْطَلَقَ وَانْطَلَقْتُ مَعَهُ ، فَدَخَلَ عَلَيْهِ وَدَخَلْتُ مَعَهُ ، فَلَمِسَ عَضُدَهُ فَرَأَى فِيْهِ خَيْطًا فَأَخَذَهُ فَقَطَعَهُ ، ثُمَّ قَالَ : لَوْ مُتَّ وَهَذَا فِيْ عَضُدِكَ مَا صَلَّيْتُ عَلَيْكَ [أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه (ج </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">5</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"> / ص </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">427</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">) بسند صحيح</span></strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"> ] </span></span></p>
<p><em>&#8220;Hudzaifah pernah pergi kepada seseorang dari Nakho’ untuk menjenguknya. Beliau pergi, dan akupun pergi bersamanya. Kemudian beliau masuk menemui orang itu, dan akupun masuk bersamanya. Beliau pun menyentuh lengan orang itu. Tiba-tiba beliau melihat padanya seutas benang. Akhirnya beliau mengambil dan memutuskannya seraya berkata, &#8220;Andaikan engkau mati, sedang benang ini ada pada lenganmu, maka aku tidak akan menyolatimu&#8221;.</em> [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam <strong><em>Al-Mushonnaf</em></strong> (5/427), dengan sanad yang shohih]</p>
<p><strong>Ibrahim bin Yazid An-Nakho’iy</strong> -<em>rahimahullah</em>- berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">كَانُوْا يَكْرَهُوْنَ التَّمَائِمَ كُلَّهَا ، مِنَ الْقُرْآنِ وَغَيْرِ الْقُرْآنِ.  [أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه (ج </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">5</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"> / ص </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">428</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">), و القاسم بن سلام في فضائل القرآن (ج </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">2</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"> / ص </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">272</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">/رقم </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">704</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">), وصححه الألباني في تحقيق الكلم (ص </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">45</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">)] </span></strong></span></p>
<p><em>&#8220;Dahulu mereka –yakni, para sahabat- membenci semua jimat-jimat, baik yang terbuat dari AL-Qur’an, maupun selainnya&#8221;.</em> [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam <strong><em>Al-Mushonnaf</em></strong> (5/428), dan Abu Ubaid Al-Qosim Ibnu Sallam dalam <strong><em>Fadho'il Al-Qur'an </em></strong>(2/272/no. 704). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam <strong><em>Tahqiq Al-Kalim </em></strong>(hal. 45)]</p>
<p>Demikian pengingkaran para sahabat yang mulia, diantaranya Hudzaifah Ibnul Yaman <em>-radhiyallahu anhu-</em>. Pengingkaran ini bukan hanya berasal dari Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- dan para sahabat, bahkan generasi setelahnya terus melakukan pengingkaran atas para pemakai jimat. Muhammad bin Suqoh Al-Ghonawiy -<em>rahimahullah</em>- berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">أَنَّ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍ رَأَى إِنْسَانًا يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ فِيْ عُنُقِهِ خَرَزَةٌ فَقَطَعَهَا [أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه (ج </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">5</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"> / ص </span></strong></span><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">428</span></strong><span style="font-size:medium;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">) بسندٍ صحيحٍ]</span></strong></span></p>
<p><em>&#8220;Sa’id bin Jubair (seorang tabi’in) pernah melihat seseorang yang melakukan thawaf di Baitullah, sedang di lehernya terdapat permata (yakni, jimat). Akhirnya beliau memutuskannya&#8221;.</em> [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam <strong><em>Al-Mushonnaf</em></strong> (5/428) dengan <strong><em>sanad shohih</em></strong>] Jimat walapun terbuat dari Al-Qur’an, maka ia juga terlarang, karena tak ada contohnya dari Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-, dalil umum menunjukkan pelarangan semua jenis jimat, dan boleh jadi seorang akan membawanya ke toilet, padahal di dalamnya terdapat ayat atau dzikrullah. Selain itu, Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang digantung, tapi ia adalah bacaan.</p>
<p><strong> Al-Qodhi Abu Bakr Ibnul Arobiy</strong> -<em>rahimahullah</em>- berkata dalam <strong><em>Aridhoh Al-Ahwadziy</em></strong>, <em>&#8220;Menggantungkan Al-Qur’an (sebagai jimat) bukanlah jalan sunnah (petunjuk). Hanyalah sunnah itu pada Al-Qur’an adalah dzikir (membacanya), tanpa menggantungnya&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Hasyiyah An-Nasa'iy</em></strong> (5/421) oleh As-Sindiy]</p>
<p><strong>Sumber : </strong><em>Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 122 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)</em></p>
<p><strong>http://almakassari.com/</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafypomalaa.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafypomalaa.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafypomalaa.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafypomalaa.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafypomalaa.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafypomalaa.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafypomalaa.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafypomalaa.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafypomalaa.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafypomalaa.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafypomalaa.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafypomalaa.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafypomalaa.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafypomalaa.wordpress.com/240/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=240&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafypomalaa.wordpress.com/2010/03/05/memangkas-jimat-meluruskan-keyakinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/047bc2583d1d02885146a92e02aec1c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafypomalaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembelaan atas negeri Saudi &#8211; Wahabi = Sunni Salafy (III)</title>
		<link>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/12/12/pembelaan-atas-negeri-saudi-wahabi-sunni-salafy-iii/</link>
		<comments>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/12/12/pembelaan-atas-negeri-saudi-wahabi-sunni-salafy-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 02:56:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafypomalaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafypomalaa.wordpress.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 26 Januari 2005 &#8211; 21:25:42 :: kategori Manhaj Penulis: Asy Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz .: :. Wahabi Pelanjut Gerakan Salaf Ahlussunnah wal Jama’ah Kelompok Wahabi –demikian istilah yang dipakai oleh penulis di berita mingguan urdu itu- bukanlah kelompok baru dalam menyatakan salahnya acara-acara bid’ah semacam ini. (Wahabi dinisbahkan kepada pengikut seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=237&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Rabu, 26 Januari 2005 &#8211; 21:25:42			 :: kategori <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=arsip&amp;cat_id=2">Manhaj</a></div>
<div>Penulis: Asy Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz</div>
<div>
<div>.: <a href="http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=857" target="_blank"><img title="Cetak artikel ini.." src="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/images/print.png" alt="" /></a> :.</div>
</div>
<div>Wahabi Pelanjut Gerakan Salaf Ahlussunnah wal Jama’ah</p>
<p>Kelompok Wahabi –demikian istilah yang dipakai oleh penulis di berita mingguan urdu itu- bukanlah kelompok baru dalam menyatakan salahnya acara-acara bid’ah semacam ini. (Wahabi dinisbahkan kepada pengikut seorang hamba Allah, Abdul Wahhab, yakni Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, red)</p>
<p>Akidah Wahabi dilandaskan pada :<br />
a. Berpegang teguh kepada kitab Allah.<br />
b. Berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah.<br />
c. Berjalan pada garis ajaran Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam dan garis ajaran Khulafa’ Rasyidin setelah beliau serta para Tabi’in dan<br />
d. Meniti jejak para ulama’ al-Salaf al-Sholih, para imam terkemuka dalam Islam, yaitu para ahli fiqih dan taqwa.</p>
<p>Inilah landasan Akidah Wahhabi dalam hal Ma’rifatullah dan Itsbatush Shifah (penetapan sifat-sifat ke-Maha Sempurnaan dan ke-Maha Agungan Allah ) yang diturunkan oleh al-Qur’an dan tertera dalam hadits-hadits shahih serta yang dipegang teguh oleh para sahabat Rasul- Shalallahu ‘alaihi wassalam-. Wahabi menetapkan, mengimani dan menerima apa adanya sifat-sifat Allah itu :<br />
- Tanpa tahrif (mengubahnya)<br />
- Tanpa ta’thil (meniadakan ma’nanya)<br />
- Tanpa takyif(mempertanyakan bagaimana atau mengandaikannya), dan<br />
- Tanpa tamtsil (menyerupakan dengan sifat-sifat Makhluk).<br />
Wahabi berpegang pada dasar-dasar aqidah yang dianut oleh para ahlul ‘ilmi wat-taqwa generasi pendahulu(salaf) dan para imam umat ini yaitu para tabi’in dan pengikut setia mereka, mereka mengimani bahwa dasar dan fondasi iman adalah :</p>
<p>شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله<br />
Artinya: Kesaksian bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.</p>
<p>Syahadat ini adalah dasar iman, ia harus mengandung ilmu (pengertian dan keyakinan), amal(tindakan) dan pernyataan lesan, sebagaimana hal itu telah menjadi ijma’ umat Islam.</p>
<p>Kandungan arti syahadat ini adalah :<br />
a. Kewajiban beribadah (mengabdi) kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan<br />
b. Bara’ah (berlepas diri) dari penyembah kepada selain Allah, apapun dan siapapun dia.<br />
Inilah hikmah (Inti tujuan ) diciptakannya Jin dan Manusia. Untuk tujuan ini pula para Rasul diutus dan kitab-kitab Ilahi diturunkan.</p>
<p>Syahadat ini juga mengandung :<br />
a. Puncak (klimaks) rasa rendah dan rasa cita kepada Allah semata, dan<br />
b. Puncak (klimaks) rasa taat dan pengagungan kepada-Nya.<br />
<span id="more-237"></span><br />
Inilah din al-Islam (agama Islam) yang Allah tidak akan menerima agama apapun selainnya baik itu dari kaum-kaum terdahulu maupun dari kaum-kaum yang datang kemudian. Karena seluruh nabi berpegang kepada dien al-Islam ini dan merekapun diutus untuk menyeru menuju al-Islam , dan menuju apa yang dikandung oleh makna al-Islam itu, yaitu al-istislam (berserah diri) kepada Allah semata.</p>
<p>Maka orang yang berserah diri kepada Allah dan kepada selain-Nya, atau memanjatkan do’a kepada Allah dan kepada selain-Nya ia adalah musyrik, dan barang siapa yang tidak berserah diri kepada-Nya, ia berarti mustakbir, angkuh dan enggan menyembah-Nya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman :<br />
]وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ   [سورة النحل الآية : 36<br />
Artinya : “Dan sesungguhnya kami telah mengutus ke kalangan masing-masing umat seorang rasul untuk menyeru “Sembahlah (beribadahlah) kepada Allah dan jauhilah thoghut”.</p>
<p>Akidah Wahabi berasaskan pada pewujudan syahadat (kesaksian) bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, dengan konsekwensi menolak segala aneka bid’ah dan khurafat serta segala yang bertentangan dengan syari’at yang dibawa Rasulullah, Muhammad e<br />
Inilah aqidah yang diyakini, dianut dan didakwahkan oleh syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab –rahimahullah-. Barang siapa yang menisbatkan (melekatkan) kepada beliau aqidah lain yang bertentangan dengan aqidah di atas , berarti ia telah melakukan kedustaan dan berbuat suatu dosa yang nyata serta menyatakan suatu hal yang ia tidak memiliki ilmu tentang hal itu, yang kelak akan dibalas oleh Allah sebagaimana layaknya ancaman kepada para perekayasa kedustaan dan fitnah.</p>
<p>Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab telah memaparkan sejumlah tulisan tetang fiqh (dalam madzhab Imam Ahmad ibn hanbal).Beliau juga menulis beberapa bahasan dan kajian yang memiliki kekhasan dalam penyuguhan, dan karya-karya tulis yang bagus seputar Kalimatul-Ikhlas wat-Tauhid(لا إله إلا الله) dan arti syahadat (kesaksian) terhadap(لاإله إلا الله) serta tentang kandungan makna kalimah syahadat itu, yang diturunkan oleh al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’, yang tersimpul dalam dua hal :<br />
a. Pernyataan bahwa selain Allah tidak berhak untuk disembah dan dipertuhankan.<br />
b. Penetapan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah dan dipertuhankan. Penyembah (ibadah\ubudiah) kepada Allah ini wajib dilakukan semurni-murninya dan sesempurna-sempurnanya, terbebas dari unsur syirik (penyekutuan) baik yang kecil maupun yang besar, baik yang nyata maupun yang samar.</p>
<p>Orang mengetahui karangan-karangan Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab dan data-data akurat tentang pikiran, dakwah dan jejak perjuangan beliau, serta mengetahui aqidah yang dipegang oleh kawan seperjuangan dan murid-murid beliau, nyatalah baginya bahwa Syeikh adalah sosok yang konsisten pada aqidah pemurnian tauhid dan perjuangan membasmi bid’ah dan khurafat. Dan itulah garis para as-Salaf as-Shaleh dan para imam terkemuka.</p>
<p>Saudi Berusaha Menapak-Tilasi Jejak Salaf<br />
Alhamdulillah diatas garis inilah Pemerintah Saudi tegak. Para Ulama’nyapun meniti garis itu. Pemerintah Saudi tidaklah bersikap keras kecuali dalam menentang bid’ah dan khurafat yang menodai Agama Islam dan dalam mendobrak sikap ghuluw (melampaui batas dalam menjalankan agama) yang hal itu dilarang oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.</p>
<p>Ulama’ Islam di Saudi, para ulama’ dan penguasanya sangat menghormati setiap muslim. Mereka hunjamkan di hati mereka rasa loyalitas, pembelaan, cinta dan penghargaan tinggi kepada setiap muslim dari negara dan arah manapun.</p>
<p>Mereka hanyalah menentang dan tidak mentolerir ulah para pendukung aqidah sesat yang mengadakan aneka bid’ah dan khurafat serta peringatan hari-hari besar bid’ah. Pengadaan dan penyelenggaraan pertemuan untuk acara-acara bid’ah itu adalah termasuk hal-hal yang tidak diizinkan dan tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam. Para ulama’ dan penguasa Saudi mencegah hal itu karena ia adalah termasuk amalan-amalan baru yang diada-adakan, sedangkan setiap amalan-amalan baru seluruh umat Islam diperintah mengikuti As-Sunnah, bukan diperintah mengada-adakan bid’ah , Karena agama Islam adalah sempurna dan cukup apa yang disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam dan apa yang diterima sebagai ajaran as-Sunnah oleh Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu para sahabat, Tabi’in dan orang-orang yang mengikuti garis mereka.</p>
<p>Pelarangan terhadap penyelenggaraan maulid, hal-hal yang mengandung sesuatu yang melampaui batas dalam agama (ghuluw) atau mengandung kemusyrikan dan yang serupa bukanlah tindakan yang non-Islami atau penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassalam. Akan tetapi itu justru suatu ketaatan kepada beliau dan pelaksanaan perintah beliau. Dalam kaitan ini beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :<br />
إيا كم والغلو في الدين فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين<br />
Artinya : “Jauhilah oleh kamu ghuluw (sikap berlebihan dan melampui batas) dalam agama. Sesungguhnya penyebab kehancuran kaum sebelum kamu adalah sikap ghuluw dalam agama.”</p>
<p>Dan beliaupun bersabda :<br />
لاتطروني كما أطرت النصاري ابن مريم، إنما أنا عبد فقولوا عبد الله ورسوله.<br />
artinya : “Janganlah kamu berlebihan memujiku sebagai mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji dan menyanjung (Isa) putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Karenanya, sebutlah (aku) : “Hamba Allah dan rasul-Nya”.</p>
<p>Penutup<br />
Inilah yang ingin saya jelaskan dalam menyanggah makalah yang dimuat di warta mingguan IDARAT (INDIA). Kepada Allah saja kita panjatkan permohonan , semoga Dia melimpahkan taufiq-Nya kepada kita dan kepada seluruh umat Islam untuk dapat memahami agama Allah dan tetap teguh padanya. Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Karunia,. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam sejahtera kepada Nabi kita, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau.</p>
<p>Pimpinan Umum<br />
Direktorat Riset, Fatwa, Da’wah, Bimbingan Islam<br />
Abdul Aziz bin‘Abdullah bin Baz.</p>
<p>(Dikutip dari tulisan edisi bahasa Indonesia Kewajiban Berpegang Teguh Terhadap As-Sunnah Dan Waspada Terhadap Bid’ah, ditulis oleh Pimpinan Umum Direktorat Riset, Fatwa, Da’wah, Bimbingan Islam Abdul Aziz bin‘Abdullah bin Baz, Depag Saudi Arabia).</p></div>
<div></div>
<div>Sumber: www.salafy.or.id</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafypomalaa.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafypomalaa.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafypomalaa.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafypomalaa.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafypomalaa.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafypomalaa.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafypomalaa.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafypomalaa.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafypomalaa.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafypomalaa.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafypomalaa.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafypomalaa.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafypomalaa.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafypomalaa.wordpress.com/237/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=237&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/12/12/pembelaan-atas-negeri-saudi-wahabi-sunni-salafy-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/047bc2583d1d02885146a92e02aec1c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafypomalaa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/images/print.png" medium="image">
			<media:title type="html">Cetak artikel ini..</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembelaan atas negeri Saudi &#8211; Kembali pada al Haq (II)</title>
		<link>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/12/12/pembelaan-atas-negeri-saudi-kembali-pada-al-haq-ii/</link>
		<comments>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/12/12/pembelaan-atas-negeri-saudi-kembali-pada-al-haq-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 02:47:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafypomalaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafypomalaa.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 26 Januari 2005 &#8211; 21:22:39 :: kategori Manhaj Penulis: Asy Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz .: :. Kembali Kepada Al-Qur’an Dan As-Sunnah Dalam Menentukan Hukum Sebagai mana dimaklumi dari kaidah syar’i bahwa penentuan halal atau haram dan pemutusan perselisihan dalam hal ini hendaklah dengan merujuk kepada kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=232&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Rabu, 26 Januari 2005 &#8211; 21:22:39			 :: kategori <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=arsip&amp;cat_id=2">Manhaj</a></div>
<div>Penulis: Asy Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz</div>
<div>
<div>.: <a href="http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=856" target="_blank"><img title="Cetak artikel ini.." src="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/images/print.png" alt="" /></a> :.</div>
</div>
<div>Kembali Kepada Al-Qur’an Dan As-Sunnah Dalam Menentukan Hukum</p>
<p>Sebagai mana dimaklumi dari kaidah syar’i bahwa penentuan halal atau haram dan pemutusan perselisihan dalam hal ini hendaklah dengan merujuk kepada kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala :<br />
}يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا{ سورة النساء الآية : 59<br />
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu . Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kiamat, demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik sesudahnya”. (QS An Nisaa 59)</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman :<br />
}وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِë{سورة الشورى الآية : 10<br />
Artinya : “Apapun yang kamu perselisihkan, maka putusannya (hendaklah di kembalikan) kepada Allah”. (QS Asy Syuura 10)</p>
<p>Jika kita kembalikan masalah penyelenggaraan maulid atau semacamnya ini kepada Kitab Allah , maka kita dapati al-Qur’an menyuruh kita mengikuti Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam segala apa yang beliau bawa. Al-Qur’an pun memberi peringatan keras terhadap apa yang beliau larang Al-Qur’an juga memberi informasi kepada kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan agama, untuk umat ini, yang wajib mereka anut. Sementara, acara maulid atau semacamnya bukanlah termasuk ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Dengan demikian, berarti amalan ini diluar ajaran agama Islam yang sudah Allah sempurnakan untuk kita dan dia perintahkan kepada kita untuk mengikuti Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam melaksanakannya.</p>
<p>Lalu, jika kita kembalikan hal ini kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, maka kita pun tidak mendapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan atau merintahkannya. Begitu pula para Sahabat beliau-radhiallahu ‘anhum- tidak pernah melakukannya, dengan demikian kita ketahui dengan yakin bahwa pengadaan maulid atau semacamnya bukanlah dari ajaran Islam. Bahkan justru tegolong bid’ah yang diada-adakan, dan tergolong meniru secara buta kepada ahli kitab dari kalangan oarang-orang Yahudi maupun Nasrani dalam upacara-upacara hari besar mereka.</p>
<p>Dari keterangan diatas jelaslah bagi orang yang memiliki pemgetahuan walaupun sedikit, dan memiliki minat pada kebenaran serta memiliki sikap adil dan obyektif dalam mencari kebenaran .bahwa penyelenggaraan hari lahir, dengan segala macamnya , adalah diluar ajaran Islam bahkan tergolong bid’ah, yang kita diperintah Allah dan Rasulnya untuk meninggalkan dan berhati-hati agar tidak terpelosok didalamnya.</p>
<p><span id="more-232"></span></p>
<p>Seyogyanya orang yang berakal sehat tidak terperdaya oleh banyaknya orang yang melakukannya diberbagai belahan bumi ini . karena kebenaran tidaklah diketauhi lantaran banyaknya orang yang melakukannya, akan tetapi ia dikenali hanya melalui dalil-dalil syar’i<br />
Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani :<br />
]وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [سورة البقرة الآية : 111<br />
Artinya: “Dan merekalah (orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata: sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanyalah) angan-angan kosong mereka belaka. Katakanlah: “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar” (QS Al Baqarah 111)</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman :<br />
]وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ   [<br />
سورة الانعام الآية :116<br />
Artinya : “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan mwnyesatkan engkau dari jalan Allah”. (QS Al An’am 116)<br />
<!--more--><br />
Bentuk-Bentuk Penyenyimpangan Di Balik Acara Maulid</p>
<p>Pada umumnya, di samping acara-acara ini memang bid’ah, sering kali, di beberapa negara, diwarnai hal-hal mungkar lainnya, seperti campur aduknya pria dan wanita, pementasan nyanyian-nyanyian dan instrument-instrument musik, minum-minuman keras dan narkotika serta ragam buruk lainnya .<br />
Kadang-kadang terjadi kemungkaran yang lebih besar dari itu semua , yaitu syirik besar. Syirik ini terselubung dalam sikap berlebihan (ghuluw) terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam atau terhadap para wali, pemujaan dan Pemanjatan doa kepada Nabi e, permohonan selamat kepada beliau, permintaan kekuatan kepada beliau, keyakinan bahwa beliau mengetahui yang ghaib dan hal-hal lain yang menyeret pelakunya menjadi kafir.</p>
<p>Dalam hadits shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :<br />
إياكم والغلو في الدين فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين<br />
Artinya : “Hindarilah sikap berlebihan dalam (pengamalan) Agama, tiada lain sikap berlebihan dalam (pengamalan) Agama telah menjadikan binasanya umat sebelum kamu“.</p>
<p>Rasulullah juga telah bersabda :<br />
لاتطرودوني كما أطرت النصاري ابن مريم إنما انا عبد، فقولوا عبد الله ورسوله (أخرجه البخاري في صحيحه)<br />
Artinya : “ janganlah kamu berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebihan memuji(Isa) putera Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Karenanya sebutlah (aku) hamba Allah dan Rasulnya “ (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukharidalam shohihnya).</p>
<p>Yang mengherankan, adalah bahwa banyak orang sibuk dan bersikeras untuk menghadiri acara-acara pertemuan maulid dan semacamnya yang bid’ah ini dan mempertahankan serta membelanya. Sementara mereka absen menghadiri sholat jum’at dan sholat jamaah yang hukumnya wajib. Mereka acuh tak mengangkat kepala sedikitpun untuk memenuhi panggilan sholat Jum’at atau sholat jama’ah. Anehnya dalam kondisi seperti ini ia tidak merasa melakukan kemungkaran yang besar. Tidak diragukan, bahwa ini adalah akibat lemahnya iman , tipisnya ilmu dan menebalnya bintik-bintik noda di hati oleh sebab berbagai dosa dan kemaksiatan. Kita panjatkan permohonan kepada Allah, kiranya dia mengaruniai kita dan segenap umat Islam kesejahteraan lahir dan batin.</p>
<p>Lebih aneh lagi sebagian mereka berkeyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam hadir dalam acara maulid itu. Karenanya, mereka berdiri untuk memberikan salam kehormatan dan ucapan marhaban (selamat datang).</p>
<p>Ini adalah suatu puncak kebatilan dan seburuk-buruk kebodohan. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tidaklah keluar dari kuburan beliau sebelum hari<br />
Kiamat, dan tidak pula bekomunikasi dengan manusia, serta tidak juga menghadiri pertemuan-pertemuan yang mereka adakan. Bahkan sebaliknya, beliau menetap dikuburan sampai hari kiamat. Sedang roh suci beliau disemayamkan di tingkat teratas di “illiyyin” di istana kemuliaan ( dar al-karamah) di sisi Allah.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman :<br />
]ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ(15)ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ[  سورة المؤمنون الآية 15-16<br />
Artinya : “Kemudian kamu setelah itu benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan dibangkitkan”.(QS Al Mu’minun 15-16)</p>
<p>Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :<br />
أنا أول من ينشق عنه القبر يوم القيامه وأنا أول شافع وأول مشفع<br />
Artinya : “Aku adalah orang yang pertama kuburnya terbelah dan terbuka dihari kiamat . Aku adalah orang yang pertama memberi syafaat dan orang pertama yang di beri wewenang untuk mmberikan syafa’at”</p>
<p>Ayat dan hadits di atas, juga ayat-ayat dan hadist-hadits lain yang semakna dengannya menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan orang-orang yang telah mati lainnya, mereka hanyalah dapat keluar dari kuburan mereka pada hari kiamat. Ini menjadi ijma’(kesepakatan) para ulama’ dan tidak ada perselisihan pendapat diantara mereka.</p>
<p>Oleh sebab itu , seyogyanya seorang muslim memiliki kepekaan terhadap hal-hal semacam ini, dan hendaknya waspada terhadap aneka bid’ah dan khurafat yang diada-adakan oleh orang orang bodoh atau semacamnya, yang tidak pernah Allah menurunkan hujjah yang mendukung hal itu.</p>
<p>Adapun beshalawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam adalah termasuk ibadah yang paling utama dan salah satu dari sekian amal shalih.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman :<br />
]إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [سورة الأحزاب الآية : 56<br />
Artinya : Sesungguhnya Allah dan Malikat-Nya bershalawaat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman , bershalawatlah untuk dia dan ucapkanlah salam penghormatan padanya” (QS Al Ahzab 56)</p>
<p>Nabi Shalallahu’alaihi wassalam bersabda :<br />
من صلي علي واحدة صلي الله بها عشرة<br />
Artinya : “ Barang siapa bershalawat utukku satu kali, maka Allah akan beshalawat (dengan melimpahkan rahmat-Nya) kepadanya sepuluh kali”.</p>
<p>Bershalawat ini disyari’atkan di segala waktu , bershalawat sangat ditekankan untuk dilakukan pada akhir setiap shalat. Bahkan menurut kebanyakan ulama’ wajib dilakukan di tahiyat akhir pada setiap shalat, dan sunnah muakadah (sangat dianjurkan, red) dilakukan dibanyak tempat , diantaranya : seusai adzan, disaat nama beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam disebut , pada malam Jum’at dan berikutnya di hari Jum’at , sebagaimana ditunjukkan di banyak hadits.</p>
<p>Inilah hal-hal yang saya maksudkan untuk dijelaskan masalah ini. Kiranya cukup jelas bagi orang yang di buka dan diterangi mata hatinya oleh Allah.</p>
<p>Menyelenggarakan Maulid Bukan Cermin Cinta Kepada Rasulullah</p>
<p>Sungguh sangat menyedihkan, bahwa yang melakukan acara-acara maulid atau semacamnya yang bid’ah ini adalah umat Islam yang patuh terhadap aqidahnya dan menyatakan kecintaannya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.</p>
<p>Kini, kami sodorkan pertanyaan kepada mereka itu : “Jika anda berpegang pada aqidah sunni dan patuh kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam adakah beliau atau salah seorang Shahabat beliau ataupun tabi’in yang melakukan itu ? Atau ini justru taqlid buta terhadap musuh-musuh Islam, seperti orang-orang Yahudi, Nasrani atau orang-orang yang setipe meraka ?”</p>
<p>Cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tidaklah tercermin pada penyelenggaraan maulid . Tetapi harus tercermin pada :<br />
a. Kepatuhan terhadap apa yang beliau perintahkan,<br />
b. Meyakini apa yang beliau turunkan.<br />
c. Menjauhi apa yang beliau larang.<br />
d. Hendaknya jangan menyembah atau beribadah kepada Allah kecuali dengan tatanan yang disyari’atkan oleh Allah (melalui Rasul-Nya).<br />
e. Disamping itu, tanda kecintaan kepada Rasulullah hendaknya diwujudkan dengan bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika nama beliau disebut, baik saat di dalam shalat maupun pada kesempatan lain.</p>
<p>Bersambung ke Pembelaan atas negeri Saudi &#8211; Wahabi = Salafy (III). Klik <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=857">disini</a>.</p>
<p>(Dikutip dari tulisan edisi bahasa Indonesia Kewajiban Berpegang Teguh Terhadap As-Sunnah Dan Waspada Terhadap Bid’ah, ditulis oleh Pimpinan Umum Direktorat Riset, Fatwa, Da’wah, Bimbingan Islam Abdul Aziz bin‘Abdullah bin Baz, Depag Saudi Arabia).</p>
</div>
<div>Sumber: www.salafy.or.id</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafypomalaa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafypomalaa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafypomalaa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafypomalaa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafypomalaa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafypomalaa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafypomalaa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafypomalaa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafypomalaa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafypomalaa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafypomalaa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafypomalaa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafypomalaa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafypomalaa.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=232&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/12/12/pembelaan-atas-negeri-saudi-kembali-pada-al-haq-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/047bc2583d1d02885146a92e02aec1c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafypomalaa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/images/print.png" medium="image">
			<media:title type="html">Cetak artikel ini..</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembelaan atas negeri pendukung manhaj Salaf (I)</title>
		<link>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/12/12/pembelaan-atas-negeri-pendukung-manhaj-salaf-i/</link>
		<comments>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/12/12/pembelaan-atas-negeri-pendukung-manhaj-salaf-i/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 02:39:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafypomalaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafypomalaa.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 26 Januari 2005 &#8211; 21:01:58 :: kategori Manhaj Penulis: Asy Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz .: :. Kewajiban Berpegang Teguh Terhadap As-Sunnah Dan Waspada Terhadap Bid’ah Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan untuk kita agama ini dan telah mencukupkan untuk kita nikmat-Nya, serta telah meridhai Islam sebagai agama kita.Shalawat dan salam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=230&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rabu, 26 Januari 2005 &#8211; 21:01:58 :: kategori Manhaj<br />
Penulis: Asy Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz<br />
.: :.<br />
Kewajiban Berpegang Teguh Terhadap As-Sunnah Dan Waspada Terhadap Bid’ah</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan untuk kita agama ini dan telah mencukupkan untuk kita nikmat-Nya, serta telah meridhai Islam sebagai agama kita.Shalawat dan salam sejahtera semoga tetap terlimpah kepada Muhammad, hamba dan Rasul-Nya yang menyeru menuju ketaatan kepada Tuhannya, sekaligus menyampaikan peringatan keras terhadap sikap berlebihan (ghuluw) bid’ah dan maksiat. Semoga shalawat dari Allah tetap terlimpah kepada beliau, kepada keluarga dan sahabat serta umat beliau yang berjalan pada garis beliau dan mengikuti ajaran beliau hingga hari kiamat.</p>
<p>Sebuah Makalah Di Mingguan Idarat (India) Bermuatan Misi Serangan Terhadap Negara Pendukung Salaf</p>
<p>Telah saya telaah sebuah makalah yang dimuat di warta mingguan Idarat (dalam bahasa Urdu) yang terbit di kota Kanvoor, sebuah kota industri di daerah Attabaradish, pada halaman muka. makalah itu bermuatan serangan lewat media massa untuk menghantam kerajaan Saudi Arabia yang hingga kini tetap berpegang pada Akidah Islam yang dianutnya, dan menyatakan perang terhadap aneka bid’ah. Lebih dari itu, Makalah ini telah menunding aqidah Salaf, yang selama ini menjadi garis haluan Pemerintah Saudi, sebagai ajaran diluar aqidah sunni. Di balik tulisan ini, rupanya penulis makalah tersebut bertujuan memecah belah golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan memotivasi munculnya berbagai bid’ah dan khurafat.</p>
<p>Tidak diragukan lagi, bahwa ini adalah suatu siasat licik dan ulah yang berbahaya yang bertujuan melecehkan Islam dan menyebar luaskan berbagai bid’ah dan ajaran sesat.<br />
Kemudian secara jelas ,makalah itu menitik-beratkan pembahasannya pada masalah penyelenggaran acara maulid Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan menjadikan masalah ini titik tolak untuk mengorek aqidah Pemerintahan Saudi.</p>
<p>Oleh sebab itu, saya pandang perlu mengungkap masalah ini dengan memberikan penjelasan yang semestinya, seraya memohon pertolongan dari Allah Ta’ala.</p>
<p><span id="more-230"></span></p>
<p>Peringatan Maulid Bukan Dari Ajaran As-Sunnah</p>
<p>Penyelenggaraan acara maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan semacamnya, adalah tidak boleh hukumnya. Bahkan wajib dicegah. Karena hal itu adalah hal yang baru yang diada-adakan (bid’ah) dalam Islam.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tidak pernah melakukannya, dan tidak pernah pula memerintahkannya, baik untuk hari kelahiran beliau sendiri , atau untuk kelahiran seorang nabi dari sekian nabi yang telah wafat sebelum beliau, atau untuk hari kelahiran puteri-puteri dan istri-istri beliau, atau untuk salah seorang sanak kerabat maupun sahabat beliau.</p>
<p>Acara maulid ini tidak pernah pula dilakukan oleh para Khulafa’ Rasyidin atau sahabat yang lain –semoga Allah melimpahkan ridha kepada mereka– atau para tabi’in, bahkan oleh para ulama’ syari’ah dan as-sunnah pada tiga generasi yang dinyatakan keunggulan mereka (generasi abad pertama, kedua, ketiga hijrah)( Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam:<br />
خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم .<br />
“Sebaik-baik generasi adalah generasi di masa keberadaanku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” HR Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim).</p>
<p>Padahal merekalah generasi yang paling mengerti tentang as-Sunnah, paling cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan paling taat mengikuti Syari’at beliau, dibanding generasi setelah mereka. Seandainya penyelenggaraan acara maulud ini baik, pastilah mereka telah melakukan hal itu lebih dahulu dari pada kita.</p>
<p>Kewajiban Mengikuti As-Sunnah dan Menjauhi Bid’ah</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menyuruh kita mengikuti sunnah beliau dan melarang kita mengadakan acara ritual baru (bid’ah). Karena agama Islam telah sempurna dan cukup apa yang disyari’atkan Allah dan RasulNya, dan yang diterima sebagai tuntunan As-Sunnah oleh Ahlussunnah wal- Jamaah, yaitu para Sahabat dan Tabi’in.</p>
<p>Di dalam hadits shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :<br />
من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد<br />
Artinya : “ Barang siapa mengadakan suatu amalan baru dalam Agama kami yang di luar syari’at kami. Maka amalan itu tertolak” (HR Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhori, Muslim dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha)<br />
Hadits ini disepakati keshohihannya oleh para ulama as-Sunnah.</p>
<p>Dalam riwayat lain di Shahih Muslim<br />
من عمل عملا لس عليه أمرنا فهو رد<br />
Artinya : “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan syari’at kami. Maka amalnya itu tertolak”</p>
<p>Dalam hadits lain, beliau bersabda :<br />
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجد وإياكم ومحدثات الأمور فان<br />
كل محدثة بدعه وكل بدعة ضلالة</p>
<p>Artinya : Berpeganglah kamu sekalian pada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rashidin setelahku. Berpegang teguhlah padanya dan gigitlah ia erat-erat dengan gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap amalan yang diada-adakan itu bid’ah, sedang setiap bid’ah adalah sesat” ).<br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam khutbah Jum’at beliau :<br />
أما بعد، فان خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد e، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة.<br />
Artinya : “Selanjutnya, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah. Sebaik-baik ajaran adalah ajaran Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan. Dan setiap bid’ah adalah sesat” ) HR Ahmad, Abu Dawuud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Irbadh bin Sariyah rodhiallahu ‘anha. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Muslim dan Ibnu Majah, juga diriwayatkan oleh Al-Bukhori, At-Tirmidzi dan An Nasa’I dari Ibnu Mas’ud, dari Ibnu ‘umar berkata:<br />
كل بدعة ضلالة، وإن رأوها النا س حسنة<br />
Artinya : Setiap bid’ah adalah sesat miskipun dipandang baik oleh banyak orang(lihat : Al Ba’its ‘ala inkar al bida’ wa-l – hawadits oleh Abu Syamah As-Syafi’i )</p>
<p>Dalam hadits-hadits yang tertera diatas terdapat peringatan keras dari mengadakan berbagai bid’ah dan penegasan bahwa bid’ah adalah sesat. Ini semua agar menjadi peringatan bagi ummat Islam tentang besarnya bahaya bid’ah, sekaligus untuk mengajak mereka menjauhi tindakan melakukan bid’ah.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :<br />
}وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ{ سورة الحشر الآية :7<br />
Artinya : “Apa saja yang disampaikan Rasul kepada kamu terimalah ia. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kamu, tinggalkanlah”. (QS Al Hasyr 7)</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman :<br />
}فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ{ سورة النور الآية :63<br />
Artinya : “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan(dalam hatinya, menurut ibnu Katsir arti fitnah di ayat ini adalah cobaan dalam hati yang berupa kekafiran atau kemunafikan atau bid’ah) atau ditimpa adzab yang pedih. (QS An Nuur 63)</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman :<br />
}لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا {سورة الأحزاب الآية :21<br />
Artinya :”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu , (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir, dan banyak mengingat Allah. (QS Al Ahzab 21)</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman :<br />
}وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ{ سورة التوبة الآية :100<br />
artinya : “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS At Taubah 100)</p>
<p>Ajaran Islam Telah Disampaikan Dengan Sempurna</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman :<br />
}الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا{ سورة المائدةالآية :3<br />
Artinya : “Pada hari ini telah aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan Aku telah ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS Al Maidah 3)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan secara jelas, bahwa Allah Ta’ala telah menyempurnakan untuk ummat ini agama mereka dan telah mencukupkan bagi mereka nikmat-Nya. Sedang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tidak meninggal dunia kecuali setelah menyampaikan dakwah beliau secara paripurna. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pun menjelaskan bahwa segala ucapan maupun perbuatan (amalan) yang diada-adakan oleh orang-orang sepeninggal beliau dan mereka lakukan sebagai ajaran agama Islam, semua itu adalah bid’ah yang tertolak dan tercampakkan kembali kepada orang yang mengada-adakannya itu, meskipun tujuan orang itu baik.</p>
<p>Para Sahabat Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para Ulama salaf sholih setelah mereka, menyampaikan peringatan keras terhadap bid’ah dan mengajak untuk menjauhinya. Hal itu, tiada lain karena bid’ah adalah merupakan ajaran tambahan yang dinisbahkan kepada Islam dan merupakan olah membuat-buat syari’at yang tidak dibenarkan dan tidak pula diizinkan oleh Allah, disamping hal itu merupakan tasyabbuh (perbuatan menyerupai) musuh-musuh Allah, yaitu yahudi dan Nasrani, dalam tindakan mereka menambah dan mengada-adakan hal yang baru dalam agama mereka, yang tidak dibenarkan dan tidak diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala Lebih dari itu, tindakan bid’ah, secara tidak langsung menyeret untuk mengatakan bahwa agama Islam masih kurang dan menuduhnya tidak sempurna.</p>
<p>Jelas-jelas ini adalah kekeliruan yang fatal dan tindakan mungkar yang sangat jelek, serta bertentangan dengan firman Allah Ta’ala (اليوم أكملت لكم دينكم) disamping menyalahi hadits-haditsRasulullah yang secara nyata mengingatkan dengan keras dari berbagai bid’ah dan mengajak menjauhinya.</p>
<p>Dari pengadaan acara-acara maulid atau semacamnya tersimpul bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala belum menyempurnakan agama (Islam) untuk ummat ini, dan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam belum tuntas menyampaikan apa yang senantiasa dilakukan oleh mereka, sehingga datanglah generasi belakangan (mutaakhkhirin) untuk mengadakan amalan baru dalam ayari’at Allah, yang hal itu tidak dibenarkan oleh Allah. Mereka mengira bahwa amalan-amalan baru yang mereka ada-adakan itu dapat mendekatkan mereka kepada Allah.</p>
<p>Tanpa diragukan dalam rekaan mereka ini terkandung bahaya besar disamping ia bermuatan penantangan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Padahal Allah telah menyempurnakan agama ini untuk para hamba-Nya dan telah mencukupkan nikmat-Nya pada mereka. Rasulullah pun telah menyampaikan dakwah beliau sampai tuntas. Tidak ada satu jalan yang tidak beliau terangkan kepada ummat beliau.</p>
<p>Hal ini tertera pada hadits shahih :<br />
عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : ما بعث الله من نبي الا كان حقا عليه أن يدل أمته علي الخير ما يعلمه لهم وينذرهم شر مايعلمه لهم (رواه مسلم في صحيحه).<br />
Artinya : Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash –semoga Allah meridhai mereka- berkata : “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali Nabi itu berkewajiban menunjuki ummatnya (jalan) kebaikan yang ia ketahui untuk mereka dan menyampaikan peringatan terhadap(jalan) kejahatan yang ia ketahui berdampak buruk untuk mereka” (Hadits Riwayat Muslim dalam shahihnya) .</p>
<p>Secara yakin kita tahu bahwa Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wassalam adalah Nabi yang mulia, Nabi terakhir yang paling sempurna dalam menunaikan tugas tabligh dan membina umat. Seandainya pengadaan acara maulid itu adalah termasuk ajaran Islam yang diridhai Allah untuk para hamba-Nya, tentu Rasulullah menjelaskan kepada umat, atau tentu para Sahabat beliau melakukannya. Karena hal itu tidak pernah dijelaskan Rasulullah dan tidak pernah dilakukan oleh Sahabat beliau, maka jelaslah bahwa ia di luar ajaran Islam, bahkan termasuk ajaran-ajaran baru, yang umat ini diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam agar tidak melakukannya, sebagaimana tertera dalam hadits-hadits diatas.</p>
<p>Secara tegas, sejumlah ulama’ mengatakan bahwa acara maulid dan semacamnya adalah amalan yang salah. Merekapun menyampaikan peringatan keras terhadap hal itu, sebagai pengamalan dan penerapan dalil-dalil yang tertera diatas dan lainnya.</p>
<p>Bersambung ke Pembelaan atas negeri Saudi &#8211; Kembali pada al Haq (II). Klik disini.</p>
<p>(Dikutip dari tulisan edisi bahasa Indonesia Kewajiban Berpegang Teguh Terhadap As-Sunnah Dan Waspada Terhadap Bid’ah, ditulis oleh Pimpinan Umum Direktorat Riset, Fatwa, Da’wah, Bimbingan Islam Abdul Aziz bin‘Abdullah bin Baz, Depag Saudi Arabia).</p>
<p>Sumber: www.salafy.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafypomalaa.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafypomalaa.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafypomalaa.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafypomalaa.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafypomalaa.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafypomalaa.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafypomalaa.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafypomalaa.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafypomalaa.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafypomalaa.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafypomalaa.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafypomalaa.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafypomalaa.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafypomalaa.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=230&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/12/12/pembelaan-atas-negeri-pendukung-manhaj-salaf-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/047bc2583d1d02885146a92e02aec1c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafypomalaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hujjah adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah</title>
		<link>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/11/29/hujjah-adalah-kitabullah-dan-sunnah-rasulullah/</link>
		<comments>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/11/29/hujjah-adalah-kitabullah-dan-sunnah-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 12:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafypomalaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafypomalaa.wordpress.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Al Imam Abu Hanifah An Nu&#8217;man bin Tsabit rahimahullah berkata: &#8220;Bila aku mengatakan sebuah ucapan yang menyelisihi Kitabullah dan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka tinggalkanlah ucapanku.&#8221; Al Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: &#8220;Sesungguhnya aku tidak lain adalah manusia yang bisa salah dan bisa benar. Hendaknya kalian teliti pendapatku. Segala pendapatku yang sesuai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=228&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al Imam Abu Hanifah An Nu&#8217;man bin Tsabit rahimahullah berkata:<br />
&#8220;Bila aku mengatakan sebuah ucapan yang menyelisihi Kitabullah dan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka tinggalkanlah ucapanku.&#8221;</p>
<p>Al Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:<br />
&#8220;Sesungguhnya aku tidak lain adalah manusia yang bisa salah dan bisa benar. Hendaknya kalian teliti pendapatku. Segala pendapatku yang sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah maka ambillah. Adapun yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah maka tinggalkanlah.&#8221;</p>
<p>Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi&#8217;i rahimahullah berkata:<br />
&#8220;Tidak ada seorangpun kecuali dia lupa atau tidak mengetahui sebagian Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Oleh karena itu, bagaimanapun pendapat yang aku ucapkan, atau kaidah ushul yang aku buat, namun ternyata dalam hal itu ada sesuatu (hadits) dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang menyelisihi pendapatku, maka pendapat yang benar adalah yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan itu pula yang menjadi pendapatku.&#8221;</p>
<p>Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:<br />
&#8220;Pendapat Al Auza&#8217;i, pendapat Malik, pendapat Abu Hanifah, semuanya adalah pendapat (manusia). Semuanya sama menurutku. Yang menjadi hujjah hanyalah apa yang terdapat dalam atsar (yakni hadits, pent.).&#8221;</p>
<p>(Diambil dari Shifat Shalatin Nabi shallallahu alaihi wa sallam, karya Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, hal. 46-53)<br />
Majalah Asy Syariah, No. 40/IV/1429 H/2008</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafypomalaa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafypomalaa.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafypomalaa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafypomalaa.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafypomalaa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafypomalaa.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafypomalaa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafypomalaa.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafypomalaa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafypomalaa.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafypomalaa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafypomalaa.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafypomalaa.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafypomalaa.wordpress.com/228/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=228&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/11/29/hujjah-adalah-kitabullah-dan-sunnah-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/047bc2583d1d02885146a92e02aec1c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafypomalaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengejar Dunia dengan Amalan Akhirat adalah Kesyirikan</title>
		<link>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/09/01/mengejar-dunia-dengan-amalan-akhirat-adalah-kesyirikan/</link>
		<comments>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/09/01/mengejar-dunia-dengan-amalan-akhirat-adalah-kesyirikan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 00:34:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafypomalaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafypomalaa.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 25 Maret 2009 - 20:01:57,  Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah AbdurrahmanKategori : Akidah Slogan ‘waktu adalah uang’ telah demikian mendarah daging dalam hidup mayoritas manusia serta menjadi prinsip yang mengiringi aktivitas mereka. Bukan sekadar slogan yang kosong dari makna, karena berbagai macam cara pun akan ditempuh manusia untuk mengejar apa yang dinamakan dengan uang. “Gunung kan kudaki, lautan kan kuseberangi. Lembah akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=225&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Rabu, 25 Maret 2009 - 20:01:57,  Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman</span><span>Kategori : Akidah</span></p>
<p><span>Slogan ‘waktu adalah uang’ telah demikian mendarah daging dalam hidup mayoritas manusia serta menjadi prinsip yang mengiringi aktivitas mereka. Bukan sekadar slogan yang kosong dari makna, karena berbagai macam cara pun akan ditempuh manusia untuk mengejar apa yang dinamakan dengan uang. “Gunung kan kudaki, lautan kan kuseberangi. Lembah akan kulalui, bahkan mati akan kuhadapi,” kata mereka.<br />
Ada manusia, yang tak peduli siang ataupun malam, terus-menerus waktunya disibukkan dengan mencari uang. Para wanita sampai melelang kehormatannya, menjatuhkan martabatnya karenanya juga. Ringkasnya, hidup adalah uang.<br />
Para pedagang, pekerja, dan pengusaha, berusaha meramal hidupnya melalui paranormal juga karena uang yang akan dikejar. Mereka ngalap berkah di kuburan tertentu, juga untuk mendapatkan penghasilan dan jalan hidup yang beruntung, menurut mereka. Berkunjung ke tempat-tempat keramat dengan mempersembahkan berbagai jenis sesaji juga karenanya. <span id="more-225"></span><br />
Maka sangat ironis jika seseorang berbicara tentang agama juga karena tujuan yang sama dengan mereka. Mereka melelang ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan harga yang sangat murah.<br />
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ<br />
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)<br />
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلاَّ النَّارَ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat serta tidak menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (Al-Baqarah: 174)<br />
وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ<br />
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” (Ali ‘Imran: 187)<br />
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu menyatakan: “Orang-orang yang diberikan Al-Kitab dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan yang serupa dengan mereka, melemparkan janji-janji ini di belakang punggung mereka. Mereka tidak memedulikan janji-janji tersebut. Mereka menyembunyikan kebenaran dan menampilkan kebatilan. Mereka berani melanggar keharaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, meremehkan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala serta hak makhluk-Nya. Dengan cara menyembunyikan tersebut, mereka juga membeli kedudukan dan harta benda dengan harga yang sedikit dari para pengikutnya serta orang-orang yang mengutamakan syahwat daripada kebenaran.” (Taisir Al-Karimirrahman, 1/160)</p>
<p>Siapakah Budak Dunia?<br />
Kata “budak” telah dipakai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyebut orang-orang yang telah diperbudak oleh dunia di dalam sebuah sabdanya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:<br />
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيْصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ<br />
“Celaka budak dinar, budak dirham, dan budak khamishah (suatu jenis pakaian). Apabila diberi dia ridha dan bila tidak diberi dia murka.” (HR. Al-Bukhari no. 2887 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)<br />
Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Budak dinar adalah orang yang mencarinya dengan semangat tinggi. (Bila mendapatkannya), dia menjaganya seolah-olah dia menjadi khadim, pembantu, dan budak. Ath-Thibi rahimahullahu berkata: ‘Dikhususkan kata budak untuk menggelarinya, karena dia berkubang dalam cinta kepada dunia serta segala bentuk syahwatnya, layaknya seorang tawanan yang tidak memiliki upaya untuk melepaskan dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan malik (pemilik), tidak pula orang yang menghimpun dinar, karena yang tercela adalah mengumpulkan melebihi dari yang dibutuhkan’.” (Fathul Bari, 18/249)<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai budak dinar dan dirham karena kerakusan serta semangatnya untuk mendapatkannya. Barangsiapa menjadi budak hawa nafsunya, maka dia tidak akan bisa mewujudkan pada dirinya makna ayat ﭢ ﭣ . (Hanya kepada-Mu lah kami beribadah). Orang yang seperti ini sifatnya tidak akan menjadi orang shadiq (terpercaya)… Dan dikhususkan penyebutan keduanya (dinar dan dirham), karena keduanya adalah asal harta benda dunia berikut segala kenikmatannya. (Tuhfatul Ahwadzi, 6/161)<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Perkataan yang mengandung pujian akan menyenangkan pencari kedudukan –dengan cara batil–, sekalipun kalimat itu adalah batil. Dia juga akan murka dengan sebab sebuah perkataan, sekalipun perkataan itu benar. Adapun orang yang beriman, kalimat yang haq akan menjadikan dia ridha baik kalimat itu mendukung atau menghujatnya. Sebaliknya, menjadikan kalimat batil akan menyebabkannya murka, baik kalimat itu menguntungkannya ataupun tidak. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai yang haq, kejujuran, dan keadilan. Bila dikatakan kebenaran, kejujuran, dan keadilan yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia akan mencintainya sekalipun menyelisihi keinginan hawa nafsunya karena hawa nafsunya mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila diucapkan suatu kezaliman, kedustaan, dan hal yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka orang yang beriman akan membencinya sekalipun sesuai hawa nafsunya. Demikian juga kondisi pencari harta –dengan cara yang batil– sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:<br />
وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ<br />
“Di antara mereka ada yang mencelamu dalam hal shadaqah. Jika mereka diberi mereka senang dan jika tidak diberi mereka benci.” (At-Taubah: 58)<br />
Mereka itulah yang telah disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau: ‘Celaka budak dinar’.” (Az-Zuhd wal Wara’ wal ‘Ibadah, 1/38)<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata setelah menyebutkan tipe-tipe manusia yang rakus dengan dunia: “Permasalahan dunia (bagi manusia) ada dua bentuk. Di antaranya:<br />
(Pertama) Perkara yang dibutuhkan oleh setiap orang sebagaimana butuhnya dia terhadap makan, minum, tempat tinggal, menikah, dan sebagainya. Dia meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mencarinya di sisi-Nya, sehingga harta di hadapannya bagaikan keledai yang dikendarainya, atau bagaikan permadani yang dia duduk padanya, atau bahkan seperti WC di mana dia menunaikan hajat tanpa adanya unsur perbudakan diri. Namun dia akan banyak berkeluh kesah bila tertimpa kejelekan, dan menjadi kikir apabila mendapatkan kesenangan.<br />
(Kedua) Perkara yang manusia tidak membutuhkannya. Dalam perkara yang seperti ini, janganlah seseorang menggantungkan hatinya kepadanya. Bila dia menggantungkan hatinya kepadanya, niscaya dia akan menjadi budaknya. Bahkan terkadang dia akan terjatuh pada perbuatan menggantungkan diri kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam kondisi ini, tidak tersisa lagi pada dirinya hakikat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak pula hakikat tawakkal. Bahkan dalam dirinya terdapat bentuk pengabdian kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertawakkal kepada selain-Nya. Dialah yang paling berhak mendapatkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Telah celaka budak dinar, budak dirham, budak qathifah (sejenis beludru), dan budak khamishah’.<br />
Dialah budak semua hal ini. Jika dia memintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lantas Dia memberinya, dia akan ridha. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberinya, dia akan murka.<br />
Sedangkan hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala sejati ialah orang yang membuatnya ridha semua yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha, dan membuatnya murka apa-apa yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka. Dia mencintai apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, serta akan murka terhadap apa yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berloyalitas kepada wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menentang musuh-musuh-Nya. Inilah yang menyempurnakan iman, sebagaimana di dalam hadits:<br />
مَنْ أَحَبَّ لِلهِ وَأَبْغَضَ لِلهِ وَأَعْطَى لِلهِ وَمَنَعَ لِلهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانَ<br />
“Barangsiapa cinta karena Allah dan membenci karena Allah, memberi karena-Nya dan tidak memberi juga karena-Nya, maka dia telah menyempurnakan iman.”<br />
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ<br />
“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.&#8221; (Al-‘Ubudiyyah, 1/25)</p>
<p>Mencari Dunia dengan Amalan Akhirat adalah Syirik<br />
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu menulis sebuah bab dalam Kitab At-Tauhid “Bab: Termasuk dari kesyirikan adalah menginginkan dunia dengan amalan akhirat.”<br />
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullahu berkata: “Yang beliau maksud dengan judul ini adalah bahwa beramal untuk mendapatkan dunia adalah syirik yang akan menafikan kesempurnaan tauhid yang wajib dan membatalkan amalan (syirik kecil, ed.). Hal ini lebih besar daripada dosa riya’. Karena niatan untuk mendapatkan dunia telah menguasai keinginannya pada mayoritas amalannya, sedangkan riya’ hanya pada satu amalan saja dan tidak masuk dalam amalan yang lain. Riya’ juga tidak terus-menerus ada bersama amalan. Orang yang beriman harus berhati-berhati dari semua ini.” (Fathul Majid, 2/625)<br />
Bukan sesuatu yang baru bagi kaum muslimin jika Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkan kesyirikan. Bahkan mereka mengetahui bahwa syirik adalah dosa yang paling besar. Akan tetapi tahukah mereka segala rincian syirik? Tentu, jawabannya adalah tidak. Hal ini disebabkan banyak faktor. Di antaranya kejahilan (ketidaktahuan) mereka tentang aqidah yang benar. Juga adanya penyakit taqlid buta dan fanatik serta sikap ghuluw (berlebihan) dalam menyikapi orang-orang shalih. (‘Aqidah At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan. hal. 16)<br />
Para ulama Ahlus Sunnah telah menjelaskan macam-macam syirik yang terangkum dalam dua macam: syirik yang akan mengeluarkan dari Islam yang disebut dengan syirik besar; dan syirik yang tidak mengeluarkan dari Islam yang disebut dengan syirik kecil.<br />
Termasuk dalam kategori syirik kecil adalah beramal karena ingin mendapatkan dunia. Seperti seseorang yang berhaji, menjadi muadzin, atau menjadi imam karena ingin mendapatkan materi, atau belajar ilmu dan berjihad juga untuk mendapatkan materi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah celaka hamba dinar dan dirham. Telah celaka hamba khamishah dan khamilah (jenis-jenis pakaian). Jika diberi dia ridha dan jika tidak diberi dia benci.” (‘Aqidah At-Tauhid hal. 98)<br />
Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Syirik dalam iradah (keinginan) dan niat bagaikan laut tak bertepi. Sedikit sekali orang yang selamat darinya. Maka barangsiapa yang dengan amalnya menginginkan selain wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, meniatkan sesuatu selain mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta selain mendapatkan balasan dari-Nya, sungguh dia telah melakukan kesyirikan dalam niat dan keinginannya. Sedangkan ikhlas adalah dia mengikhlaskan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perbuatannya, ucapan, keinginan, dan niatnya. Ini adalah hanifiyyah, agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-Nya untuk mengikutinya dan tidak akan diterima agama selainnya. Ini juga merupakan hakikat Islam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:<br />
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ<br />
“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)<br />
Inilah agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang barangsiapa membencinya, dia termasuk orang yang paling dungu.” (Al-Jawabul Kafi, hal. 115)</p>
<p>Contoh Mencari Dunia dengan Amalan Akhirat<br />
a. Ulama<br />
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ<br />
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (At-Taubah: 34)<br />
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu menjelaskan: “Ini merupakan peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada segenap kaum mukminin bahwa mayoritas ulama Yahudi dan pendeta Nasrani –artinya, ulama dan ahli ibadah– memakan harta manusia dengan cara batil, yakni dengan cara tidak benar. Mereka juga menghalangi (manusia) dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya jika mereka mendapatkan gaji dari harta manusia atau manusia menyisihkan harta benda mereka untuknya, maka hal itu disebabkan ilmu dan ibadah mereka. Juga karena bimbingan yang mereka berikan. Namun mereka mengambil semuanya dan menghalangi manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga pengambilan upah yang mereka lakukan dengan cara demikian adalah sebuah kezaliman. Karena orang tidak akan mengorbankan harta bendanya melainkan agar mereka terbimbing ke jalan yang lurus.” (Taisirul Karimirrahman, hal. 296)</p>
<p>b. Da’i<br />
Mungkinkah seorang da’i akan terjatuh dalam kesyirikan? Jawabannya adalah sangat mungkin. Terlebih jika sang da’i adalah orang yang tidak memiliki aqidah yang benar dan manhaj yang lurus. Dia bisa menjadikan dakwahnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits sebagai jembatan untuk mendapatkan: kedudukan di hati manusia, sanjungan dan pujian dari mereka, mencari pengikut yang banyak, serta mencari uluran tangan mereka.<br />
Karena menurut mereka, jalan inilah yang paling mudah dan tidak membutuhkan kerja keras, peras keringat banting tulang untuk mendapatkannya. Barangsiapa yang niatnya demikian, baik seorang alim, kyai, da’i, atau lainnya, maka dia telah terjatuh dalam perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (lihat gambaran ini dalam Fathul Majid hal. 453-454)</p>
<p>c. Politikus<br />
Bukan sesuatu yang aneh bagi seorang politikus untuk melontarkan pernyataan-pernyataan dengan menyitir dalil-dalil baik dari Al-Qur’an atau As-Sunnah. Terlebih lagi bila dia tadinya seorang da’i yang kemudian terjun ke dunia politik. Yang ada adalah, pertama, bagaimana mengumpulkan massa; dan kedua, mengumpulkan dana. Ujung-ujungnya adalah mencari kedudukan di mata manusia.<br />
Dalam syarah Fadhlul Islam disebutkan terjadinya penyimpangan dari ash-shirath al-awwal (jalan yang lurus) adalah karena di tengah umat muncul politik yang jahat dan zalim, yang telah melencengkan hukum-hukum agama. Karena politik inilah, ahli ilmu, para hakim, dan ahli fatwa memberikan fatwanya sesuai dengan kemaslahatan negara atau kelompok.</p>
<p>Untaian Indah dari Al-Imam Ibnul Qayyim<br />
Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata: Sayyar telah menceritakan kepadaku: Ja’far telah menceritakan kepadaku: Aku telah mendengar Malik bin Dinar rahimahullahu berkata: “Berhati-hatilah kalian dari wanita penyihir. Berhati-hatilah kalian dari wanita penyihir. Berhati-hatilah dari wanita penyihir, karena mereka telah menyihir hati-hati ulama.”<br />
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahullahu berkata: “Dunia adalah khamrnya setan. Barangsiapa mabuk karenanya, maka dia tidak akan sadar sampai kematian menjemput dalam keadaan menyesal di tengah orang-orang yang merugi. Sedangkan bentuk cinta yang paling ringan kepada dunia adalah melalaikan dari cinta dan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa yang harta bendanya telah melalaikannya dari dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sungguh dia termasuk orang yang merugi. Bila hati lalai dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya hati itu akan ditempati oleh setan, yang kemudian akan memalingkannya sesuai kehendaknya…<br />
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tiadalah setiap orang di dunia ini melainkan sebagai tamu dan hartanya adalah pinjaman. Tentunya, tamu itu akan berangkat pergi dan pinjaman itu akan kembali kepada pemiliknya.”<br />
Mereka (para ulama) berkata: “Cinta dunia dianggap sebagai kepala kerusakan. Dia akan merusak agama dari banyak sisi. Pertama, mencintai dunia akan membuahkan pengagungan terhadapnya, sementara dunia itu rendah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengagungkan apa yang telah dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk dosa yang paling besar. Kedua, Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat, membenci dan murka terhadap dunia dan segala yang ada padanya (kecuali hal-hal yang diperuntukkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala). Barangsiapa yang mencintai apa yang dilaknat, dibenci, dan dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia telah melemparkan dirinya kepada laknat, kebencian, dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketiga, jika dia mencintainya, tentu dia menjadikan dunia itu sebagai tujuannya. Dia akan mencari jalan kepadanya dengan amalan-amalan yang sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan sebagai sarana (wasilah yang mengantarkan) kepada-Nya dan kampung akhirat.” (‘Uddatush Shabirin wa Dzakhiratusy Syakirin, hal. 186)<br />
Wallahu a’lam bish-shawab.<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafypomalaa.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafypomalaa.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafypomalaa.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafypomalaa.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafypomalaa.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafypomalaa.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafypomalaa.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafypomalaa.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafypomalaa.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafypomalaa.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafypomalaa.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafypomalaa.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafypomalaa.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafypomalaa.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=225&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafypomalaa.wordpress.com/2009/09/01/mengejar-dunia-dengan-amalan-akhirat-adalah-kesyirikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/047bc2583d1d02885146a92e02aec1c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafypomalaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ittiba’ Kewajiban Mengikuti Sunnah</title>
		<link>http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/10/11/ittiba%e2%80%99-kewajiban-mengikuti-sunnah/</link>
		<comments>http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/10/11/ittiba%e2%80%99-kewajiban-mengikuti-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 07:34:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafypomalaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permata Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafypomalaa.wordpress.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Abdullah bin Mas’ud Rodiyallahu ‘anhu : “Sederhana dalam Sunnah* (menjalankan ajaran Rasulullah) lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam kebid’ahan.” Ubai bin Ka’ab Rodiyallahu ‘anhu : “Kamu harus berpegang dengan jalan Allah dan As Sunnah. Sesungguhnya orang yang (berjalan) di atas jalan Allah dan As Sunnah kemudian dia mengingat Ar-Rahman (Allah) hingga air matanya menetes karena takut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=216&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Abdullah bin Mas’ud Rodiyallahu ‘anhu :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Sederhana dalam Sunnah* (menjalankan ajaran Rasulullah) lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam kebid’ahan.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ubai bin Ka’ab Rodiyallahu ‘anhu :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Kamu harus berpegang dengan jalan Allah dan As Sunnah. Sesungguhnya orang yang (berjalan) di atas jalan Allah dan As Sunnah kemudian dia mengingat Ar-Rahman (Allah) hingga air matanya menetes karena takut kepada-Nya, tidak akan tersentuh api neraka. Sesungguhnya sederhana dalam jalan Allah dan As Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam kebid’ahan.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sufyan Ats-Tsauri Rohimahullah :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Hai Yusuf ! Jika ada seorang Ahlus Sunnah dari negeri timur maka sampaikan salamku kepadanya, dan jika ada seorang Ahlus Sunnah dari negeri barat maka sampaikan salamku kepadanya. Sungguh Ahlus Sunnah wal Jamaah sangat sedikit jumlahnya.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Yunus bin Abil A’la Rohimahullah :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata,”Jika aku melihat seorang lelaki Ahli Hadits seolah aku melihat shahabat Nabi.” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, 33-34)</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Auza’i Rohimahullah :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Kami berjalan ke mana As Sunnah berjalan.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Imam Al-Lalikai, 1/64)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud Rohimahullah :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Kamu tidak akan salah selamanya asal kamu di atas As Sunnah.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(At-Thabaqat, 1/71, Al-Hujajul Qawiyyah, 30)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Umar bin Abdul ‘Aziz Rohimahullah :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Kamu haruslah komitmen dengan As Sunnah, sesungguhnya As Sunnah menjagamu dengan ijin Allah.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(Al-Hilyah, 5/338, Al-Hujajul Qawiyyah,30)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&gt;&lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span style="position:relative;z-index:1;"><span style="position:absolute;left:-1px;top:-1px;width:202px;height:2px;"><img src="/DOCUME~1/BYNETI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/03/clip_image001.gif" alt="" width="202" height="2" /></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">* Definisi As Sunnah adalah mengamalkan Al Qur’an dan Hadits serta mengikuti pendahulu yang shalih serta berittiba’ (berteladan) dengan jejak mereka (lihat Asy Syariah edisi 04 hal. 13)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sumber : Majalah As Syariah, edisi No.05/I/Jumadil Akhir 1424 H/Agustus 2003 halaman 1</span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafypomalaa.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafypomalaa.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafypomalaa.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafypomalaa.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafypomalaa.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafypomalaa.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafypomalaa.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafypomalaa.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafypomalaa.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafypomalaa.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafypomalaa.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafypomalaa.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafypomalaa.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafypomalaa.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=216&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/10/11/ittiba%e2%80%99-kewajiban-mengikuti-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/047bc2583d1d02885146a92e02aec1c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafypomalaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENCARI BERKAH (TABARRUK) DALAM ISLAM</title>
		<link>http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/10/09/mencari-berkah-tabarruk-dalam-islam/</link>
		<comments>http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/10/09/mencari-berkah-tabarruk-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 03:43:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafypomalaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafypomalaa.wordpress.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, shalawat dan salam bagi teladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Umat Islam setelah berlalu masa kebaikan dan masa keemasannya selagi khulafaurasyidin berkuasa mulai dihinggapi penyakit perpecahan. Berbagai aqidah bi’dah dan kesyirikan mulai merembes dan merusak keutuhan aqidah Islam. Diantara fenomena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=211&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Alhamdulillah, shalawat dan salam bagi teladan kita, Nabi Muhammad </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam,<em> </em></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Umat Islam setelah berlalu masa kebaikan dan masa keemasannya selagi khulafaurasyidin berkuasa mulai dihinggapi penyakit perpecahan. Berbagai aqidah bi’dah dan kesyirikan mulai merembes dan merusak keutuhan aqidah Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Diantara fenomena yang menonjol hingga saat ini adalah perbuatan tabarruk (mencari berkah) terhadap orang-orang shaleh, pada peninggalan mereka, pada waktu dan tempat tertentu yang terkait dengannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span id="more-211"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tabarruk merupakan perkara aqidah yang sangat penting. Sikap berlebihan <em>(ghuluw)</em> dan menyalahi sunnah dalam masalah ini telah menyeret banyak orang dahulu maupun sekarang kepada bid’ah (jalan yang diada-adakan dalam agama yang menyerupai syariat dengan maksud menempuhnya sebagai mana menempuh jalan syariat – Al-’Itshom 1/51), khurafat dan syirik. Bahkan salah satu faktor dominan yang menyebabkan orang-orang jahiliyah terdahulu menyembah berhala adalah kebiasaan mereka meminta berkah kepada berhala-berhala tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kemudian orang-orang <em>zindiq</em> dan orang munafik menggunakan tabarruk bid’ah ini sebagai salah satu cara untuk merusak Islam dari dalam yakni dengan menanamkan sikap <em>ghuluw</em> (berlebihan) terhadap para wali dan orang shaleh serta bertabarruk dengan kuburan mereka. <strong><em>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em></strong> menyatakan dari sinilah orang-orang munafik dengan leluasa memasukkan apa saja yang mereka inginkan ke dalam Islam. Sungguh yang pertama kali mengada-adakan bid’ah pada agama ini adalah seorang zindiq Yahudi <strong><em>Abdullah Bin Saba</em></strong><em>’</em> yang berpura-pura menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafirannya untuk merusak agama kaum muslimin. Sebagaimana <strong><em>Paulus</em></strong> telah merusak agama Nasrani <em>(Kristen)</em>. Dia berupaya menyebar fitnah di tengah umat Islam hingga terbunuhlah <strong><em>Utsman</em></strong>. Kemudian setelah umat Islam berpecah belah menjadi labillah keadaan dan gampang dijungkir balikkan. Hal ini bagai gayung bersambut dihati – hati yang bodoh dan gelap. Kalau umat Islam tidak menjadi kafir sekurang-kurangnya akan muncul beragam bid’ah yang merupakan kunci terbukanya pintu kesyirikan. Ketika posisi para zindiq itu sudah kuat mereka memerintahkan membangun tempat-tempat ibadah di atas kuburan dan mengosongkan masjid-masjid dengan alasan tidak boleh shalat jum’at dan jama’ah kecuali di belakang imam yang ma’shum. Mereka menganjurkan memasang lampu-lampu di kuburan mengagungkannya dan berdoa disisinya. Mereka membuat kedustaan atas Nabi Muhammad </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> dan keluarganya. Mereka menciptakan berbagai kesyirikan dan menghimpunnya dalam kedustaan (Majmu Fatawa, 27/16).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang terjatuh dalam perbuatan syirik melalui pintu tabarruk. Untuk itu kita perlu mengetahui makna tabarruk serta jenis-jenis tabarruk yang disyariatkan dan dilarang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">MAKNA DAN HAKIKAT TABARRUK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Laits menafsirkan ayat <strong>(</strong></span><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">ﺗﺑﺎﺭﻚﺍﷲ</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">)</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Al-A’raf: 54 bermakna “<em>pemuliaan dan pengagungan” </em>sedangkan Syaikh Abdurahman As-Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman (254) menyatakan bahwa makna <strong>(</strong></span><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">ﺗﺑﺎﺭﻚﺍﷲ</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">)</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> adalah “<em>keagungan dan ketinggian serta banyak kebaikan</em>. Allah Ta’ala menetapkan berkah pada diri-Nya karena keagungan dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya dan Dia memberi berkah kepada mahluk-Nya dengan menghalalkan kebaikan yang banyak dan melimpah. Dengan demikian berkah yang ada pada segala sesuatu adalah pengaruh dari rahmat dari Allah Ta’ala’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata dalam mengomentari sabda Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> yang selalu kita baca dalam tasyahud :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:#010101;">اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span> </span>bahwa hakikat berkah ialah <em>ketetapan, kepastian dan keberadaan</em>. Beliau juga berkata bahwa berkah berarti kenikmatan dan tambahan, sedang hakikatnya adalah kebaikan yang banyak, terus menerus dan tidak ada yang berhak memiliki sifat tersebut kecuali Allah Tabaraka Wa Ta’ala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dari penjelasan para ulama tentang berkah dapat dipetik beberapa faedah, sekaligus sebagai peringatan, yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">1. Bahwasanya seluruh berkah itu dari Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala sebagaimana rizki, pertolongan dan kesehatan. Oleh karena itu tidak boleh bertabarruk (meminta berkah) kecuali kepada Allah karena Dialah pemberi berkah. Maka upaya tabarruk kepada selain Allah adalah perbuatan syirik. Ibnu Mas’ud Rodiyallahu ‘anhu. Ia berkata: kami bersama Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> dalam suatu perjalanan. Ketika itu persediaan air sangat sedikit maka beliau </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda “<em>carilah sisa air</em> “, para sahabat pun membawa bejana yang berisi sedikit air. Lalu Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> memasukkan tanganya ke dalam bejana tersebut seraya bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“<em>Kemarilah menuju air yang suci lagi diberkahi dan berkah itu dari Allah</em>”, sungguh aku Ibnu Mas’ud melihat air terpancar di antara jemari Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> (HR. Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">2. Sesuatu yang digunakan untuk bertabarruk seperti benda-benda, ucapan ataupun perbuatan yang telah jelas ketetapannya dalam syariat, kedudukannya hanya sebagai sebab bukan yang memberi berkah. Sebagaimana halnya obat hanya sebagai sebab bagi kesembuhan bukan yang menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu penyandaran berkah kepada benda-benda tersebut termaksud penyadaran sesuatu kepada sebabnya sebagaimana ucapan Aisyah tentang Juwairiyyah Binti Al-Harits: ”aku tidak mengetahui seorang perempuan yang lebih banyak berkahnya bagi kaumnya daripada dia (HR. Ahmad). Di sini Juwairiyyah hanya sebagai sebab bukan yang memberi berkah, sebab ketika para sahabat mengetahui Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> menikahi Juwairiyyah dari Bani Mustholiq tidak kurang dari 100 kaumnya dibebaskan oleh para sahabat karena memandang bahwa mereka itu adalah besan-besan<span style="color:red;"> </span>Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">3. Mencari berkah harus melalui sebab-sebab yang diperintahkan oleh syariat dan yang menentukan ada atau tidaknya berkah pada sesuatu hanyalah dalil syar’i karena perkara agama dibangun di atas dalil berbeda dengan perkara duniawi yang dapat diketahui dengan akal melalui pengalaman dan bukti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">4. Mencari berkah dapat dilakukan dengan perkara yang dapat dicapai oleh panca indra seperti ilmu, do’a dan lain-lain. Seseorang bisa mendapatkan kebaikan yang banyak dengan ilmu yang dia amalkan dan yang dia ajarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tabarruk adalah upaya mencari berkah berupa tambahan kebaikan dan pahala serta semua yang dibutuhkan oleh hamba dalam urusan agama dan dunianya melalui sebab-sebab dan cara-cara yang telah ditetapkan oleh syariat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">TABARRUK YANG DISYARIATKAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">1. Tabaruk dengan diri Nabi <span> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> dan peninggalannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Diri Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> adalah diri yang diberkahi. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala menjadikan berkah khusus pada diri beliau. Para sahabat tahu akan hal itu dan mereka berusaha memanfaatkannya sebelum Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> wafat, ternyata beliaupun tidak mengingkarinya. Hal ini banyak diriwayatkan dalam hadits-hadits yang shahih. Namun perlu diketahui bahwa semua peninggalan Nabi </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> baik berupa pakaian, rambut, peluh dan sebagainya, semuanya telah hilang/musnah dan tidak ada yang dapat membuktikan keberadaannya secara yakin dan pasti. Dengan demikian tabarruk dengan peninggalan Nabi </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> saat ini tidak perlu dibahas lagi dan hanya merupakan teori.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">2. Tabarruk dengan ucapan dan perbuatan yang disyariatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;text-indent:-.7pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di antara ucapan-ucapan yang mengandung berkah adalah dzikirullah dan membaca Al-Qur’an. Dari abu Hurairah bahwa Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;text-indent:-.7pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Sesungguhnya Allah memiliki beberapa malaikat yang biasa berkeliling di jalan-jalan mencari orang-orang yang berdzikir. Jika mereka mendapatkan suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka pun saling memanggil ! “kemarilah pada apa yang kalian cari”. Maka para malaikatpun menaungi orang-orang berdzikir dengan sayap-sayap mereka sampai ke langit dunia. Lalu Allah Azza Wa Jalla bertanya kepada malaikat itu, sedangkan Allah Maha Tahu. Apa yang diucapkan hamba-hambaku ? Para malaikat menjawab: mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid dan memuji Engkau. Allah bertanya apakah mereka melihat Aku. Para malaikat menjawab: Tidak, Demi Allah mereka tidak melihat Engkau. Allah bertanya lagi: Bagaimana sekiranya jika mereka melihat Aku, malaikat menjawab: Sekiranya mereka melihat Engkau niscaya tambah bersemangat beribadah kepada-Mu dan lebih banyak memuji serta bertasbih kepada-Mu. Allah bertanya lagi: apa yang mereka minta, malaikat menjawab: mereka meminta surga kepada-Mu.<span> </span>Allah bertanya lagi: Apakah mereka pernah melihat surga ? Para malaikat menjawab:”Sekiranya mereka pernah melihatnya, niscaya mereka sangat ingin untuk mendapatkannya dan lebih bersungguh-sungguh untuk memintanya serta sangat besar keinginan padanya.”Allah bertanya:”Dari apa mereka meminta perlindungan ? Para malaikat menjawab: “Dari neraka.”Allah bertanya:<span> </span>Apakah mereka pernah melihatnya.”Para malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah, mereka belum pernah melihatnya.” Allah bertanya:”Bagaimana kalau mereka melihatnya ? Para malaikat menjawab: ”Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka tambah menjauh dan takut darinya. Allah berfirman:’’Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.”Seorang di antara malaikat berkata:”Di antara mereka ada si Fulan yang tidak termaksud dari mereka (orang-orang berzikir), dia hanya datang karena ada keperluan.”Allah berfirman:’’Tidak akan celaka orang yang duduk bermajelis dengan mereka (majelis dzikir).”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(HR. Bukhari).<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;text-indent:-.7pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dan dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;text-indent:-.7pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">”Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya ia akan datang diakhirat nanti memberi syafa’at kepada orang-orang yang membacanya.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;text-indent:-.7pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;text-indent:-.7pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di antara perbuatan yang mengandung berkah dengan izin Allah jika seorang Muslim beriltizam dengannya dalam rangka mengikuti Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> adalah menuntut ilmu agama dan mengajarkannya, menghadiri shalat berjamaah dan berjihad untuk meraih keutamaan mati syahid dijalan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">3. Tabarruk dengan tempat-tempat yang disyariatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di antara tempat-tempat yang diberkahi adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Masjid-Masjid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: <em>“Tempat yang paling dicintai Allah di suatu negeri adalah masjid-masjid dan tempat yang paling di benci Allah dalam suatu negeri adalah pasar-pasarnya”.</em> (HR Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di antara masjid-masjid Allah ada yang memiliki keistimewaan tambahan dalam hal berkah yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha dan Masjid Quba”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kota Makah, Madinah dan Syam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda tentang Makkah<em>: “Demi Allah, engkau (Makkah) adalah bumi yang paling baik dan paling dicintai-Nya. Sekiranya aku tidak diusir darimu, tidaklah aku akan keluar”. </em>(HR. Ahmad, Hakim, Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Al-Bani dalam shohih Ibnu Majjah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Demikian pula Madinah dan syam, Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, menyatakan: <em>“Barangsiapa menginginkan kejelekan terhadap penduduknya (Madinah), Allah akan menghancurkan sebagaimana melelehnya garam dalam air”</em> (HR. Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Berbahagialah penduduk Syam, “kami bertanya: “Kenapa? “Beliau menjawab: <em>“Sesungguhnya para malaikat Allah Yang Maha Rahman membentangkan sayap mereka di atasnya.”</em> (HR. Ahmad, Hakim, dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam shahih Al Jami’ash Shoghir).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">3)<span> </span>Arafah, Muzdalifah dan Mina.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Banyak kebaikan yang turun kepada manusia di tempat-tempat ini berupa pengampunan dosa dan pembebasan dari neraka serta pahala yang besar bagi orang-orang yang mengikuti Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">4. Tabarruk Dengan Waktu Yang Disyariatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Allah Subhanahu Wata’ala mengkhususkan beberapa waktu dalam hal keutamaan dan berkah. Waktu tersebut antara lain: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bulan Ramadhan. Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: <em>“sungguh telah datang kepada kalian bulan ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka jahim ditutup serta setan dibelenggu pada bulan tersebut. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Siapa yang terhalang (mendapatkan kebaikannya) maka sungguh akan terhalang (dari kebaikan yang banyak)”</em>. (HR. Ahmad).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Lailatul qadar, yakni pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Allah Ta’ala berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. (Al-Qadar: 3).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">10 hari pertama Bulan Dzulhijah Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: <em>“Tidak ada amal pada hari hari-hari (lain) yang lebih afdal daripda 10 hari pertama Bulan Dzulhijah ini”</em>. Mereka para sahabat pun bertanya: Tidak pula jihad ?, Beliau Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda: <em>Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar menyabung nyawa dan hartanya dan tidak kembali sedikitpun”.</em> (HR. Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hari Arofah (Tanggal 9 dzulhijah). Allah membanggakan orang-orang yang wuquf di Arofah pada hari itu kepada para malaikat-Nya selama mereka datang semata-mata mencari ampunan-Nya. Sedang selain jama’ah haji berpuasa pada hari itu akan menjadi sebab pengampunan dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. (HR. Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Adapun hari jum’at Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda:<em>”Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan dari surga. Tidak akan terjadi hari hari kiamat kecuali pada hari jum’at”</em>(HR. Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sepertiga malam terakhir Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: <em>“Robb Tabaraka Wata’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah Ta’ala berfirman: “siapa yang berdo’a kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang minta kepada-Ku, aku akan memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.</em>(HR. Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">5. Tabaruk Dengan Makanan Yang Disyariatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Misalnya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>1).<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Zaitun (sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat An-Nur: 35).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>2).<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Susu. Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: <em>“Sungguh aku tidak mengetahui ada makanan dan minuman yang bisa mencukupi selain susu”.</em>(Hadits hasan Ibnu Majah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>3).<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Habbatus Sauda’ (jintan hitam).<span> </span>Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bersabda: <em>“Sesungguhnya pada jintan hitam itu terdapat obat bagi segala penyakit kecuali kematian”.</em> (HR. Ibnu Majah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>4).<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kurma ajwah (berdasarkan hadits Al-Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>5).<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Madu (sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat An-Nahl: 69).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>6).<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Air Zam-Zam (HR. Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>7).<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Air hujan. Allah Ta’ala berfirman:”<em>Dan kami turunkan air dari langit yang banyak manfaatnya</em> (QS. Qaaf: 9).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>8).<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Termasuk juga: Kuda (HR. Bukhari), kambing atau domba (HR. Abu Dawud) dan pohon kurma (HR. Al-Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">TABARRUK YANG DILARANG</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">1. Tabarruk kaum jahiliyah pertama, dimana mereka bertabarruk pada berhala-berhala, karena keyakinan mereka bahwa berhala-berhala tersebut dapat mendatangkan kebaikan dan berkah serta mempunyai pengaruh terhadap Allah yang akan mewujudkan keinginan mereka. Mereka mengusap berhala tersebut, thawaf mengelilinginya, berkurban dan bernadzar di samping berhala tersebut. Mereka bertabarruk dengan senjata/pedang-pedang yang telah digantungkan pada pohon <em>“Dzatu Anwath”</em> yang mereka yakini mempunyai berkah. Bahkan merekapun bertabarruk kepada juru kunci atau penjaga berhala.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">2. Tabarruk pada tempat-tempat dan benda-benda yang dilarang, misalnya bertabarruk dengan cara mencium jendela-jendela masjid dan mengambil debunya sebagai obat; meskipun masjid tersebut adalah masjid yang diberkahi. Atau bertabarruk dengan tempat yang secara historis punya kaitan dengan peristiwa yang diberkahi, misalnya tempat kelahiran Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam, Bukit Tsur, Gua Hira, dan lain-lain. <strong><em><span style="text-decoration:underline;">Tabarruk</span></em></strong><span style="text-decoration:underline;"> </span>adalah ibadah, sehingga bentuk dan cara-caranya harus berasal dari pemilik syariat dan tidak boleh melampaui yang telah disyariatkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">3. Tabarruk dengan waktu-waktu yang dilarang, yakni yang melakukan amalan-amalan yang tidak dianjurkan/tidak disyariatkan pada waktu-waktu yang – sebenarnya – diberkahi. Misalnya mengkhususkan berpuasa pada hari Jum’at, atau hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, melakukan ibadah atau menyelenggarakan perayaan khusus seperti peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam hari Isra Mi’raj, tahun Baru Hijriyah dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">4. Tabarruk dengan orang-orang yang sholeh dan peninggalan-peninggalannya. Tabarruk dengan diri/dzat seseorang khusus berlaku pada diri Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu ‘alaihi wasallam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Tidak pada orang lain, tidak pula pada khulafa’urosyidin, para sahabat yang dijamin masuk surga, para imam apalagi yang lainnya. Imam Ahmad pernah didatangi seorang lelaki yang langsung mengambil beliau dan mengusapkannya pada baju dan wajahnya. Imam Ahmad marah dan berkata keras/mengecam laki-laki itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi taufiq kepada kita untuk berjalan di atas petunjuk dan melindungi kita dari para penyesat yang membawa nama Islam, amin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Wallahu ta’ala A’lam Bis Showab</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Maroji:</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:46.75pt;text-align:justify;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kitab At-Tabarruk Al-Masyru Wat Tabarruk Al-Mamnu, karya Syaikh Dr. Ali Bin Nafi Al-Alayani.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:46.75pt;text-align:justify;text-indent:-9.35pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;"><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Taisir Karimir Rahman Fi Tafsir Kalamil Mannan, Karya Syaikh Abdur Rahman Bin Nashr As-Sa’dy.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Materi Booklet Al – Ilmu Kendari.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Diterbitkan Oleh Divisi Publikasi Dan Informasi Forum Mahasiswa Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Dewan Redaksi: Ust. Abu Usamah, Ust. Abu Abdil Barr, Ust. Abu Jundi. Koordinator: Darman. Sekretaris: Yusrin. Keuangan: Rusdin. Distributor: Toni. Lay Out: Ide Sury. Alamat redaksi: Jl. Malaka Lrg. Kusuma Pondok Rizki. HP: 081524729456 atau 081524745565</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafypomalaa.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafypomalaa.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafypomalaa.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafypomalaa.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafypomalaa.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafypomalaa.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafypomalaa.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafypomalaa.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafypomalaa.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafypomalaa.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafypomalaa.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafypomalaa.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafypomalaa.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafypomalaa.wordpress.com/211/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=211&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/10/09/mencari-berkah-tabarruk-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/047bc2583d1d02885146a92e02aec1c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafypomalaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SIHIR DAN PERDUKUNAN</title>
		<link>http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/09/15/sihir-dan-perdukunan/</link>
		<comments>http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/09/15/sihir-dan-perdukunan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 03:21:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafypomalaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafypomalaa.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini banyak tukang ramal yang mengaku dirinya sebagai tabib/dokter, dan mengobati orang sakit dengan jalan sihir atau perdukunan. Mereka kini banyak tersebar di berbagai negeri. Orang-orang awam yang tidak mengerti sudah banyak yang menjadi korban pemerasan mereka. Maka sebagai nasehat yang ikhlas untuk Allah, kamudian untuk para hamba-Nya, kami ingin menjelaskan tentang betapa besar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=208&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Akhir-akhir ini banyak tukang ramal yang mengaku dirinya sebagai tabib/dokter, dan mengobati orang sakit dengan jalan sihir atau perdukunan. Mereka kini banyak tersebar di berbagai negeri. Orang-orang awam yang tidak mengerti sudah banyak yang menjadi korban pemerasan mereka. Maka sebagai nasehat yang ikhlas untuk Allah, kamudian untuk para hamba-Nya, kami ingin menjelaskan tentang betapa besar bahayanya terhadap Islam dan umat Islam, oleh adanya ketergantungan kepada selain Allah, serta bertolak belakang dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.05pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Dengan memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kami katakan bahwa berobat dibolehkan menurut kesepakatan para ulama. Seorang muslim hendaklah berusaha mendatangi dokter yang ahli, baik penyakit dalam, pembedahan, saraf, maupun penyakit luar lainnya untuk diperiksa apa penyakit yang diderita, dan kemudian diobati sesuai dengan obat-obat yang dibolehkan oleh syariat sebagaimana yang dikenal oleh ilmu kedokteran. Dilihat dari segi sebab dan akibat yang biasa berlaku, hal ini tidak bertentangan dengan ajaran tawakal kepada Allah dalam Islam. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya. Sebagian manusia ada yang mengetahuinya dan ada sebagian yang lain tidak mengetahuinya. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan penyembuhannya dari sesuatu yang telah diharamkan kepada mereka.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span><span id="more-208"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Rasulullah </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam <span class="fnu21"><span style="color:black;">bersabda:</span></span><span style="color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><em><span style="font-size:10pt;color:black;">Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit, kecuali Allah turunkan pula obatnya.</span></em></span><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">(HR. Bukhari)</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Dalam riwayat disebutkan:</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><br />
<em>”<span class="fnu21"><span style="color:black;">Bagi tiap-tiap penyakit ada obatnya&#8230;”</span></span></em><span class="fnu21"><span style="color:black;"> (HR. Muslim).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><strong><span style="font-size:10pt;color:black;">Larangan Mendatangi Dukun Dan Tukang Ramal</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><strong><span style="font-size:10pt;color:black;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Berdasarkan dengan hadits diatas, maka tidak dibenarkan pada orang yang sakit, mendatangi dukun-dukun yang menda’wahkan dirinya mengetahui hal-hal yang ghaib, untuk mengetahui apa sakit yang dideritanya. Tidak diperbolehkan pula mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan. Karena sesuatu yang mereka katakan mengenai hal-hal yang ghaib itu hanya didasarkan atas perkiraan belaka, atau dengan cara mendatangkan jin, dan meminta pertolongan jin-jin itu tentang sesuatu yang mereka inginkan. Dengan cara demikian dukun-dukun tersebut telah melakukan perkara-perkara kufur dan penyesatan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.05pt;"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Rasulullah </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam<span class="fnu21"><span style="color:black;"> menjelaskan dalam berbagai haditsnya sebagai berikut:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><em><span style="font-size:10pt;color:black;">Barangsiapa yang mendatangi ‘arraaf (tukang ramal) dan menanyakan sesuatu kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.</span></em></span><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;"> (HR. Muslim).</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">B<span class="fnu21"><span style="color:black;">arangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad. </span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">(HR. Abu Dawud)</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><em><span style="font-size:10pt;color:black;">Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad. </span></em></span><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">(HR. empat ahlu sunan dan disahihkan oleh Hakim).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:9.35pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><em><span style="font-size:10pt;color:black;">Bukan dari golongan kami, orang yang menentukan nasib sial dan untung berdasarkan tanda-tanda benda seperti burung dan lain-lain; atau yang bertanya kepada dukun dan yang mendukuninya, atau yang menyihir dan yang meminta sihir untuknya. Dan barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad. </span></em></span><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">(HR. Al-Bazzaar dengan sanad jayyid).</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Dari hadist-hadist yang mulia ini, menunjukkan larangan mendatangi tukang ramal, dukun dan sejenisnya; larangan bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang ghaib; larangan mempercayai/membenarkan apa yang mereka katakan, dan ancaman bagi mereka yang melakukannya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Oleh karena itu, kepada para penguasa dan mereka yang mempunyai pengaruh di negerinya masing-masing, wajib mencegah segala bentuk praktek tukang ramal, dukun dan sejenisnya dan melarang orang-orang mendatangi mereka.</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Kepada mereka yang berwenang supaya melarang mereka melakukan praktek di pasar-pasar dan tempat-tempat yang lainnya dan secara tegas menolak segala yang mereka lakukan. Dan hendaknya tidak boleh tertipu oleh pengakuan segelintir orang tentang kebenaran apa yang mereka lakukan, karena orang-orang tersebut tidak mengetahui tentang perkara yang dilakukan oleh dukun-dukun tersebut, bahkan kebanyakan mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti hukum dan larangan yang mereka lakukan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.05pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Rasulullah </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam<span class="fnu21"><span style="color:black;"> telah melarang umatnya mendatangi para dukun, tukang tenung dan melarang bertanya serta membenarkan apa yang mereka lakukan, karena mengandung kemungkaran dan bahaya yang sangat besar. Juga akan berakibat negatif yang sangat besar pula, karena mereka adalah orang-orang yang melakukan kedustaan dan dosa.</span></span><span style="color:black;"><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Hadits-hadits Rasulullah </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam<span class="fnu21"><span style="color:black;"> tersebut di atas, membuktikan kekufuran para dukun dan tukang tenung, karena mereka mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib. Dan mereka tidak akan sampai pada maksud yang diinginkan melainkan dengan cara berbakti, tunduk, taat dan menyembah jin-jin. Dan hal ini merupakan perbuatan kufur dan syirik kepada Allah Ta’ala. Orang yang membenarkan mereka atas pengakuannya mengetahui hal-hal yang ghaib dan meyakininya, maka hukumnya sama seperti mereka. Dan setiap orang yang menerima perkara ini dari orang yang melakukannya, sesungguhnya Rasulullah </span></span>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam <span class="fnu21"><span style="color:black;">berlepas diri dari mereka.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.05pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Seorang muslim tidak boleh tunduk dan percaya terhadap dugaan dan sangkaan cara seperti yang dilakukan itu sebagai suatu cara pengobatan, semisal tulisan-tulisan azimat yang mereka buat, atau menuangkan cairan yang berisi rajah-rajah, dan lain-lain dari cerita bohong yang mereka lakukan. Semua ini adalah praktek-praktek perdukunan dan penipuan terhadap manusia. Maka barangsiapa yang rela menerima praktek-praktek tersebut tanpa menunjukkan sikap penolakannya, sesungguhnya ia telah mendukung mereka dalam perbuatan batil dan kufur.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><strong><span style="font-size:10pt;color:black;">Sihir Adalah Perbuatan Kufur</span></strong></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:28.05pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.35pt;"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Sihir sebagai salah satu perbuatan kufur yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dijelaskan dalam firman-Nya:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.35pt;"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.35pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَوَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ</span><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:black;"><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.35pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">”<span class="fnu21"><span style="color:black;">Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir&#8221;. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui”. </span></span></span></em><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">(Al-Baqarah:102).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.35pt;"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa sihir adalah perbuatan kufur dan sihir dapat memecah-belah hubungan suami isteri. Sihir pada hekekatnya tidak mempunyai pengaruh dalam mendatangkan manfaat dan mudharat. Pengaruhnya semata -</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> <span class="fnu21"><span style="color:black;">mata karena atas izin Allah yang Maha Kuasa, karena Dialah yang Maha Kuasa menciptakan yang baik dan buruk. Bahayanya yang besar itu karena semakin dibesar-besarkan oleh orang-orang yang sengaja mengada-adakan kebohongan di antara orang-orang yang mewarisi dari orang-orang musyrik, dengan mempengaruhi orang-orang yang lemah akalnya. Sesungguhya kita milik Allah, kita akan kembali kepada Allah jua, dan hanya kepada-Nya kita berserah diri. Sesungguhnya Allah sebaik-baik tempat penyerahan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa orang-orang yang mempelajari ilmu sihir, sesungguhnya mereka mempelajari hal-hal yang hanya mendatangkan mudlarat bagi diri mereka sendiri, tidak mendatangkan manfaat sedikitpun, dan tidak pula mereka mendapatkan bagian sesuatu kebaikan di sisi Allah Ta’ala. Ini merupakan ancaman yang sangat besar yang menunjukkan betapa besar kerugian yang diderita oleh mereka di dunia ini dan di akhirat nanti. Mereka sesungguhnya telah memperjual-belikan diri mereka dengan harga yang sangat murah. Itulah sebabnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><br />
”<span class="fnu21"><em><span style="color:black;">Dan alangkah buruknya perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir itu, seandainya mereka mengetahui” </span></em></span><span class="fnu21"><span style="color:black;">(Al-Baqarah: 102).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="fnu21"><span style="font-size:10pt;color:black;">Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kesehatan dan keselamatan dari kejahatan sihir dan semua jenis praktek perdukunan serta tukang sihir dan tukang ramal. Kita memohon pula kepada-Nya agar kaum muslimin terpelihara dari kejahatan mereka. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pertolongan kepada kaum muslimin agar senantiasa berhati-hati terhadap mereka, dan melaksanakan hukum Allah dengan segala konsekwensinya kepada mereka, sehingga manusia menjadi aman dari kejahatan mereka dan segala praktek keji yang mereka lakukan. Sesungguhnya Allah adalah zat yang maha pemurah lagi maha mulia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Cara Menangkal dan Mengatasi Sihir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mensyariatkan kepada hamba-hamba Nya perkara-perkara yang digunakan oleh seorang hamba untuk menjaga dirinya dari kejahatan sihir sebelum sihir itu menimpanya. Dan Dia Subhanahu Wa Ta’ala juga telah menjelaskan obat bagi sihir itu apabila menimpah hamba-hamba Nya. Semua itu sebagai rahmat dan kebaikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta sebagai penyempurnaan nikmat-Nya atas hamba-hamba-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Di antara perkara-perkara yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk digunakan sebagai penangkal sihir adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">1.Membentengi diri dengan dzikir – dzikir yang syar’i dan do’a serta lafadz-lafadz perlindungan <em>(mu’awwidzat)</em> yang ma’tsur (ada riwayatnya dari nabi </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">I<span style="color:black;"> -pent), Seperti membaca ayat kursi setiap malam dan membacanys bersama <strong><em>Surah Al-Ikhlas</em></strong>, <strong><em>Surah Al-Falaq</em></strong> dan <strong><em>surah An-Naas</em></strong> setiap selesai shalat wajib; membaca <strong><em>Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq</em></strong> dan <strong><em>An-Naas</em></strong> masing-masing 3x di awal pagi (setelah shalat shubuh) dan di awal malam (setelah shalat Magrib), serta ketika hendak tidur, serta membaca 2 ayat terakhir <strong><em>Surah Al-Baqarah </em></strong>di awal malam.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Telah shahih dari Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam<span style="color:black;">, bahwa beliau bersabda:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span> </span>“Barangsiapa yang membaca ayat kursi pada malam hari, maka dia tidak akan terlepas dari penjagaan Allah dan syaithan tidak akan mendekatinya hingga datang waktu shubuh”.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span> </span>Beliau </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam<span style="color:black;"> juga bersabda :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span> </span>“Barangsiapa membaca 2 ayat terakhir surat Al-Baqarah pada malam hari maka sudah mencukupi baginya”.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span> </span>Makna [ </span><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:black;">ﻛﻔﺗﺎﻩ</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> = <em>mencukupinya </em>] – Wallahu a’alam – adalah “mencukupi dari semua kejelekan “.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">2.Memperbanyak membaca lafadz perlindungan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><span style="font-size:10pt;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ<span style="color:black;"><span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span> </span><em>“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan apa-apa yang telah Dia ciptakan”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span> </span><span> </span>Pada waktu malam dan siang serta ketika turun/singgah disuatu tempat.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span> </span>Juga membaca 3x diawal pagi dan awal malam, dengan lafadz:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;text-indent:-9.35pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:9pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">بِسْمِ اللهِ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْم<span> </span>ُ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span> </span>“Dengan nama Allah yang tidak akan memudharatkan sesuatupun bersama nama-Nya di dunia, dan di langit dan Dia maha mendengar lagi maha mengetahui”.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam<span style="color:black;"> yang shohih dan karena hal itu adalah sebab bagi keselamatan dari segala kejelekan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Dzikir-dzikir perlindungan ini meupakan sebab-sebab yang agung/ besar dalam menangkal sihir dan kejahatan lainnya bagi orang-orang yang senantiasa menjaga dengan sebenar-benarnya dan beriman serta percaya kepada Allah dan menggantungkan diri kepada-Nya dan lapang hatinya menerima dalil-dalil yang menunjukkan hal ini. Dan dzikir-dzikir ini juga merupakan senjata yang ampuh untuk menghilangkan sihir setelah terjadinya, disertai dengan banyak memohon dan merendahkan diri kepada Allah Ta’ala untuk menghilangkan penyakit dan segala bahaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Termasuk obat yang telah disyariatkan untuk mengatasi sihir apabila ia menimpa seorang hamba, antara lain:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Dzikir-dzikir perlindungan yang telah disebutkan pada bagian penangkal sihir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Doa yang telah tetap dipakai oleh Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam<span style="color:black;"> untuk mengobati sihir dan penyakit lainnya, dan beliau menyuruh para sahabat dengan doa ini, yaitu:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:black;">ﺍﻟﻟﻬﻡ ﺭﺏ ﺍﻠﻧﺎﺲ ﺃﺬﻫﺐ ﺍﻠﺒﺄﺲ ﻮﺍﺷﻒ ﺃﻧﺕﺍﻠﺷﺎ ﻓﻲ ﻼ ﺷﻔﺎﺀ ﺇﻻﺷﻔﺎﺆﻚ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:black;">ﺷﻔﺎﺀﻻﻳﻐﺎﺩﺭﺳﻗﻣﺎ</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">“Ya Allah Rabb manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah. Engkau adalah Dzat yang maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menimbulkan rasa sakit”.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Doa ini dibaca 3x.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Juga doa yang dipakai oleh Jibril untuk meruqyah Nabi </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:black;">ﺒﺴﻡﺍﷲ ﺃﺮﻗﻳﻚ ﻣﻥ ﻜﻝ ﺸﻲﺀ ﻳﺆﺬﻳﻚ ﻮﻣﻥ ﺸﺮﻜﻝ ﻧﻔﺲ ﺃﻮﻋﻴﻥ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:black;">ﺤﺎﺴﺪﺍﷲ ﻴﺷﻔﻴﻚ ﺒﺴﻡﺍﷲ ﺃﺮﻗﻴﻚ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">“Dengan nama Allah aku meruqyah engkau dari setiap sesuatu yang menyakitimu dan dari kejelekan setiap jiwa atau mata yang dengki. Allah yang menyembuhkanmu dengan nama Allah aku meruqyahmu”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Doa ini dibaca 3x.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Apabila sihir menimpa seorang lelaki sehingga tidak bisa menggauli istrinya, maka hendaknya ia mengambil tujuh lembar daun bidara yang masih hijau, lalu ditumbuk dengan batu atau yang semacamnya dan dimasukan kedalam bejana kemudian dituangi air seukuran cukup untuk dipakai mandi, lalu dibacakan padanya: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42.55pt;text-indent:-14.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;"><span><span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&quot;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Ayat kursi, surah Al-Kafirun, surah Al-Ikhlas, surah Al-Falaq, surah An-Naas, Surah Al-A’raaf ayat 117 – 119, surah Yunus ayat 79 – 82,surah Thoha ayat 65 – 69.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Kemudian air bidara yang telah diruqyah itu dia minum tiga tegukkan dan sisanya dipakai mandi, Insya Allah dengan cara ini akan hilang sihirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.05pt;text-indent:-28.05pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span> </span>4.<span> </span>Termasuk cara yang ampuh untuk menghilangkan sihir adalah bersungguh-sungguh mencari tahu tempat sihir (<em>buhul-buhulnya</em> – pent) di gunung atau tempat lainnya kemudian mengeluarkan dan menghancurkannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Wallahu A’lam Bishawab</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Muroji: </span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Kitab Hukmus Sihri Wal Kahaanat Wa Maa Yata’allaqu Bihaa. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullahu Ta’ala</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">MUTIARA HADITS</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:black;">Dari Abu Hurairah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Rodiyallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam <span> </span>bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> sahabat bertanya: ‘Apakah ketujuh perkara itu, ya rasulullah ? “<em>. </em>Beliau menjawab:<em> ‘Yaitu: syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri disaat dalam peperangan dan menuduh zina terhadap wanita yang terjaga dari perbuatan dosa, tidak tahu menahu dengannya dan beriman kepada Allah”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Materi Booklet Al – Ilmu Kendari.</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Diterbitkan Oleh Divisi Publikasi Dan Informasi Forum Mahasiswa Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Dewan Redaksi: Ust. Abu Usamah, Ust. Abu Abdil Barr, Ust. Abu Jundi. Koordinator: Darman. Sekretaris: Yusrin. Keuangan: Rusdin. Distributor: Toni. Lay Out: Ide Sury. Alamat redaksi: Jl. Malaka Lrg. Kusuma Pondok Rizki. HP: 081524729456 atau 081524745565</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafypomalaa.wordpress.com/208/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafypomalaa.wordpress.com/208/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafypomalaa.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafypomalaa.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafypomalaa.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafypomalaa.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafypomalaa.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafypomalaa.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafypomalaa.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafypomalaa.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafypomalaa.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafypomalaa.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafypomalaa.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafypomalaa.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafypomalaa.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafypomalaa.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=208&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/09/15/sihir-dan-perdukunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/047bc2583d1d02885146a92e02aec1c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafypomalaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shaum ( Puasa ) Ramadhan dan Hari Raya Bersama Pemerintah, Syi’ar Kebersamaan Umat Islam</title>
		<link>http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/08/30/shaum-puasa-ramadhan-dan-hari-raya-bersama-pemerintah-syi%e2%80%99ar-kebersamaan-umat-islam/</link>
		<comments>http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/08/30/shaum-puasa-ramadhan-dan-hari-raya-bersama-pemerintah-syi%e2%80%99ar-kebersamaan-umat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 07:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafypomalaa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Khusus Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafypomalaa.wordpress.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc Taat kepada pemerintah dalam perkara kebaikan. Inilah salah satu prinsip agama yang kini telah banyak dilupakan dan ditinggalkan umat. Yang kini banyak dilakukan justru berupaya mencari keburukan pemerintah sebanyak-banyaknya untuk kemudian disebarkan ke masyarakat. Akibat buruk dari ditinggalkannya prinsip ini sudah banyak kita rasakan. Satu di antaranya adalah munculnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=204&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;font-family:Verdana;">Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc</span></h2>
<h2 style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Taat kepada pemerintah dalam perkara kebaikan. Inilah salah satu prinsip agama yang kini telah banyak dilupakan dan ditinggalkan umat. Yang kini banyak dilakukan justru berupaya mencari keburukan pemerintah sebanyak-banyaknya untuk kemudian disebarkan ke masyarakat. Akibat buruk dari ditinggalkannya prinsip ini sudah banyak kita rasakan. Satu di antaranya adalah munculnya perpecahan di kalangan umat Islam saat menentukan awal Ramadhan atau Hari Raya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bulan suci Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Hari-harinya diliputi suasana ibadah; shaum, shalat tarawih, bacaan Al-Qur`an, dan sebagainya. Sebuah fenomena yang tak didapati di bulan-bulan selainnya. Tak ayal, bila kedatangannya menjadi dambaan, dan kepergiannya meninggalkan kesan yang mendalam. Tak kalah istimewanya, ternyata bulan suci Ramadhan juga sebagai salah satu syi’ar kebersamaan umat Islam. Secara bersama-sama mereka melakukan shaum Ramadhan; dengan menahan diri dari rasa lapar, dahaga dan dorongan hawa nafsu<span> </span>sejak<span> </span>terbitnya<span> </span>fajar<span> </span>hingga terbenamnya matahari, serta mengisi malam-malamnya dengan shalat tarawih dan berbagai macam ibadah lainnya. Tak hanya kita umat Islam di Indonesia yang merasakannya. Bahkan seluruh umat Islam di penjuru dunia pun turut merasakan dan memilikinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span id="more-204"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Namun syi’ar kebersamaan itu kian hari semakin pudar, manakala elemen-elemen umat Islam di banyak negeri saling berlomba merumuskan keputusan yang berbeda dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Keputusan itu terkadang atas nama ormas, terkadang atas nama parpol, dan terkadang pula atas nama pribadi. Masing-masing mengklaim, keputusannya yang paling benar. Tak pelak, shaum Ramadhan yang merupakan syi’ar kebersamaan itu (kerap kali) diawali dan diakhiri dengan fenomena perpecahan di tubuh umat Islam sendiri. Tentunya, ini merupakan fenomena menyedihkan bagi siapa pun yang mengidamkan persatuan umat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin anda akan berkata: “Itu karena adanya perbedaan pendapat di antara elemen umat<span> </span>Islam,<span> </span>apakah<span> </span>awal<span> </span>masuk<span> </span>dan<strong> </strong>keluarnya bulan Ramadhan itu ditentukan oleh ru`yatul hilal (melihat hilal) ataukah dengan ilmu hisab?”. Bisa juga anda mengatakan: “Karena adanya perbedaan pendapat, apakah di dunia ini hanya berlaku satu mathla’ (tempat keluarnya hilal) ataukah masing-masing negeri mempunyai mathla’ sendiri-sendiri?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bila kita mau jujur soal penyebab pudarnya syi’ar kebersamaan itu, lepas adanya realita perbedaan pendapat di atas, utamanya disebabkan makin tenggelamnya salah satu prinsip penting agama Islam dari hati sanubari umat Islam. Prinsip itu adalah memuliakan dan menaati penguasa (pemerintah) umat Islam dalam hal yang ma’ruf (kebaikan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mungkin timbul tanda tanya: “Apa hubungannya antara ketaatan terhadap penguasa dengan pelaksanaan shaum Ramadhan? ”Layak dicatat, hubungan antara keduanya sangat erat. Hal itu karena:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam, dan suatu kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penentuan pelaksanaan shaum Ramadhan merupakan perkara yang ma’ruf (kebaikan) dan bukan kemaksiatan. Sehingga menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam. Terlebih ketika penentuannya setelah melalui sekian proses, dari pengerahan tim ru‘yatul hilal di sejumlah titik di negerinya hingga digelarnya sidang-sidang istimewa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Realita juga membuktikan, dengan menaati keputusan penguasa dalam hal pelaksanaan shaum Ramadhan dan penentuan hari raya ‘Idul Fithri, benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya, ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, perpecahan di tubuh mereka pun sangat mencolok. Maka dari itu, menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَىاللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> <strong>(HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” <strong>(Fathul Bari, juz 13, hal. 120)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mungkin ada yang bertanya, “Adakah untaian fatwa dari para ulama seputar permasalahan ini?” Maka jawabnya ada, sebagaimana berikut ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Fatwa Para Ulama Seputar Shaum Ramadhan Bersama Penguasa </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> bersama Al-Jama’ah.” <strong>(Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Imam At-Tirmidzi berkata: (mengenai hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ, وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ, وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban / Iedul Adha di hari kalian berkurban.”)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini dengan ucapan (mereka): “Sesungguhnya shaum dan ber-bukanya itu (dilaksanakan) bersama Al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam’.” <strong>(Tuhfatul Ahwadzi juz 2, hal. 37. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Imam Abul Hasan As-Sindi berkata: “Yang jelas, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, berbuka puasa /Iedul Fithri dan Iedul Adha, -pen.) keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini, setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan mayoritas umat Islam. Maka dari itu, jika ada seseorang yang melihat hilal (bulan sabit) namun penguasa menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” <strong>(Hasyiyah ‘ala Ibni Majah, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani <strong><em>(</em></strong><em>Beliau merupakan salah satu ulama yang berpendapat bahwasanya pelaksanaan shaum Ramadhan dan Idul Fithri di dunia ini hanya dengan satu mathla’ saja, sebagaimana yang beliau rinci dalam kitab Tamamul Minnah hal. 398. Walaupun demikian, beliau sangat getol mengajak umat Islam (saat ini) untuk melakukan shaum Ramadhan dan Iedul Fithri bersama penguasanya, sebagaimana perkataan beliau)</em> berkata: “Dan selama belum (terwujud) bersatunya negeri-negeri Islam di atas satu mathla’ (dalam menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, -pen.), aku berpendapat bahwa setiap warga negara hendaknya melaksanakan shaum Ramadhan bersama negaranya (pemerintahnya) masing-masing dan tidak bercerai-berai dalam perkara ini, yakni shaum bersama pemerintah dan sebagian lainnya shaum bersama negara lain, baik mendahului pemerintahnya atau pun belakangan. Karena yang demikian itu dapat mempertajam perselisihan di tengah masyarakat muslim sendiri. Sebagaimana yang terjadi di sebagian negara Arab sejak beberapa tahun yang lalu. Wallahul Musta’an.” <strong>(Tamamul Minnah hal. 398 ) </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Beliau juga berkata: “Inilah yang sesuai dengan syariat (Islam) yang toleran, yang di antara misinya adalah mempersatukan umat manusia, menyatukan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari segala pendapat pribadi yang memicu perpecahan. Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi –meski menurut yang bersangkutan benar– dalam ibadah yang bersifat kebersamaan seperti; shaum, Ied, dan shalat berjamaah. Tidakkah engkau melihat bahwa sebagian shahabat radhiallahu ‘anhum shalat bermakmum di belakang shahabat lainnya, padahal sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah dari tubuh termasuk pembatal wudhu, sementara yang lainnya tidak berpendapat demikian?! Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna (4 rakaat) dalam safar dan di antara mereka pula ada yang mengqasharnya (2 rakaat). Namun perbedaan itu tidaklah menghalangi mereka untuk melakukan shalat berjamaah di belakang seorang imam (walaupun berbeda pendapat dengannya, -pen.) dan tetap berkeyakinan bahwa shalat tersebut sah. Hal itu karena adanya pengetahuan mereka bahwa bercerai-berai dalam urusan agama lebih buruk daripada sekedar berbeda pendapat. Bahkan sebagian mereka mendahulukan pendapat penguasa daripada pendapat pribadinya pada momen berkumpulnya manusia seperti di Mina. Hal itu semata-mata untuk menghindari kesudahan buruk (terjadinya perpecahan) bila dia tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud (1/307), bahwasanya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu shalat di Mina 4 rakaat (Zhuhur, ‘Ashar, dan Isya’ -pen). Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengingkarinya seraya berkata: “Aku telah shalat (di Mina/hari-hari haji, -pen.) bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah per-bedaan di antara kalian (sebagian shalat 4 rakaat dan sebagian lagi 2 rakaat, -pen.), dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><br />
Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “Engkau telah mengingkari ‘Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, (mengapa) kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih. Diriwayat-kan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Maka dari itu, hendaknya hadits dan atsar ini benar-benar dijadikan bahan renungan oleh orang-orang yang (hobi, -pen.) berpecah-belah dalam urusan shalat mereka serta tidak mau bermakmum kepada sebagian imam masjid, khususnya shalat witir di bulan Ramadhan dengan dalih beda madzhab. Demikian pula orang-orang yang bershaum dan berbuka sendiri, baik mendahului mayoritas kaum muslimin atau pun mengakhirkannya dengan dalih mengerti ilmu falaq, tanpa peduli harus berseberangan dengan mayoritas kaum muslimin. Hendaknya mereka semua mau merenungkan ilmu yang telah kami sampaikan ini. Dan semoga ini bisa menjadi obat bagi kebodohan dan kesombongan yang ada pada diri mereka. Dengan harapan agar mereka selalu dalam satu barisan bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin, karena tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Al-Jama’ah.” <strong>(Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 444-445)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu pernah ditanya: “Jika awal masuknya bulan Ramadhan telah diumumkan di salah satu negeri Islam semisal kerajaan </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Saudi   Arabia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, namun di negeri kami belum diumumkan, bagaimanakah hukumnya? Apakah kami bershaum bersama kerajaan </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Saudi   Arabia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> ataukah bershaum dan berbuka bersama penduduk negeri kami, manakala ada pengumuman? Demikian pula halnya dengan masuknya Iedul Fithri, apa yang harus kami lakukan bila terjadi perbedaan antara negeri kami dengan negeri yang lainnya? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas engkau dengan kebaikan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Beliau menjawab: “Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ, وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ, وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/ Iedul Adha di hari kalian berkurban.” Wabillahit taufiq.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> <strong>(Lihat Fatawa Ramadhan hal. 112)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ditanya: “Umat Islam di luar dunia Islam sering berselisih dalam menyikapi berbagai macam permasalahan seperti (penentuan) masuk dan keluarnya bulan Ramadhan, serta saling berebut jabatan di bidang dakwah. Fenomena ini terjadi setiap tahun. Hanya saja tingkat ketajamannya berbeda-beda tiap tahunnya. Penyebab utamanya adalah minimnya ilmu agama, mengikuti hawa nafsu dan terkadang fanatisme madzhab atau partai, tanpa mempedulikan rambu-rambu syariat Islam dan bimbingan para ulama yang kesohor akan ilmu dan wara’-nya. Maka, adakah sebuah nasehat yang kiranya bermanfaat dan dapat mencegah (terjadinya) sekian kejelekan? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq dan penjagaan-Nya kepada engkau.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Beliau berkata: “Umat Islam wajib bersatu dan tidak boleh berpecah-belah dalam beragama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى أَنْ أَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيْهِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu, Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu:’ Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya’.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> <strong>(Asy-Syura: 13)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span> </span>“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> <strong>(Ali ‘Imran: 103)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">وَلاَ تَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah keterangan datang kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> <strong>(Ali ‘Imran: 105)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sehingga umat Islam wajib untuk menjadi umat yang satu dan tidak berpecah-belah dalam beragama. Hendaknya waktu shaum dan berbuka mereka satu, dengan mengikuti keputusan lembaga /departemen yang menangani urusan umat Islam dan tidak bercerai-berai (dalam masalah ini), walaupun harus lebih tertinggal dari shaum kerajaan </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Saudi   Arabia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> atau negeri Islam lainnya.” <strong>(Fatawa Fi Ahkamish Shiyam, hal. 51-52)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal-Ifta`: “…Dan tidak mengapa bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal (bulan tsabit) di tempat tinggalnya pada malam ke-30, untuk mengambil hasil ru`yatul hilal dari tempat lain di negerinya. Jika umat Islam di negeri tersebut berbeda pendapat dalam hal penentuannya, maka yang harus diikuti adalah keputusan penguasa di negeri tersebut bila ia seorang muslim, karena (dengan mengikuti) keputusannya akan sirnalah perbedaan pendapat itu. Dan jika si penguasa bukan seorang muslim, maka hendaknya mengikuti keputusan majelis/departemen pusat yang membidangi urusan umat Islam di negeri tersebut. Hal ini semata-mata untuk menjaga kebersamaan umat Islam dalam menjalankan shaum Ramadhan dan shalat Id di negeri mereka. Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.” Pemberi fatwa: Asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’. <strong>(Lihat Fatawa Ramadhan hal. 117)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Demikianlah beberapa fatwa para ulama terdahulu dan masa kini seputar kewajiban bershaum bersama penguasa dan mayoritas umat Islam di negerinya. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan ibrah bagi orang-orang yang mendambakan persatuan umat Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mungkin masih ada yang mengatakan bahwasanya kewajiban menaati penguasa dalam perkara semacam ini hanya berlaku untuk seorang penguasa yang adil. Adapun bila penguasanya dzalim atau seorang koruptor, tidak wajib taat kepadanya walaupun dalam perkara-perkara kebaikan dan bukan kemaksiatan, termasuk dalam hal penentuan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Satu hal yang perlu digarisbawahi dalam hal ini, jika umat dihadapkan pada polemik atau perbedaan pendapat, prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam’ haruslah senantiasa dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kalam-Nya nan suci:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> <strong>(Ali ‘Imran: 103)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Sebagaimana Dia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara keyakinan atau pun amalan…” <strong>(Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> pembaca yang mulia, bila anda telah siap untuk merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah maka simaklah bimbingan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah berikut ini:Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">يَا أَيَّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kalian.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> <strong>(An-Nisa`: 59)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Imam An-Nawawi berkata: “Yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat. Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan fiqih serta yang lainnya.” <strong>(Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal. 222)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Adapun baginda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau seringkali mengingatkan umatnya seputar permasalahan ini. Di antaranya dalam hadits-hadits beliau berikut ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shahabat ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">يَا رَسُوْلَ اللهِ! لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ- فَذَكَرَ الشَّرَّ- فَقَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> <strong>(HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ، قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ (حُذَيْفَةُ): قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku menda-patinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” </span></em><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهُ! أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لاَ، مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, boleh-kah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan per-buatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> <strong>(HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> ulama kita pun demikian adanya. Mereka (dengan latar belakang daerah, pengalaman dan generasi yang berbeda-beda) telah menyampaikan arahan dan bimbingannya yang amat berharga seputar permasalahan ini, sebagaimana berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: “Urusan kaum muslimin tidaklah stabil tanpa adanya penguasa, yang baik atau yang jahat sekalipun.” Orang-orang berkata: “Wahai Amirul Mukminin, kalau penguasa yang baik kami bisa menerimanya, lalu bagaimana dengan yang jahat?” Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya (walaupun) penguasa itu jahat namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap meme-rankannya sebagai pengawas keamanan di jalan-jalan dan pemim-pin dalam jihad…” <strong>(Syu’abul Iman, karya Al-Imam Al-Baihaqi juz 13, hal.187, dinukil dari kitab Mu’amalatul Hukkam, karya Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas hal. 57)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi berkata: “Adapun kewajiban menaati mereka (penguasa) tetaplah berlaku walaupun mereka berbuat jahat. Karena tidak menaati mereka dalam hal yang ma’ruf akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari apa yang ada selama ini. Dan di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka itu terdapat ampunan dari dosa-dosa serta (mendatangkan) pahala yang berlipat.” <strong>(Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 36)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Imam Al-Barbahari berkata: “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka, -pen.) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan melalui lisan Nabi-Nya. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya akan mendapat pahala yang sempurna insya Allah. Yakni kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at dan jihad bersama mereka, dan juga berpartisipasilah bersamanya dalam semua jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” <strong>(Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la, 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hal. 14)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Imam Ibnu Baththah Al-Ukbari berkata: “Telah sepakat para ulama ahli fiqh, ilmu, dan ahli ibadah, dan juga dari kalangan Ubbad (ahli ibadah) dan Zuhhad (orang-orang zuhud) sejak generasi pertama umat ini hingga masa kita ini: bahwa shalat Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha, hari-hari Mina dan Arafah, jihad, haji, serta penyembelihan qurban dilakukan bersama penguasa, yang baik ataupun yang jahat.” <strong>(Al-Ibanah, hal. 276-281, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah hal. 16)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Aku telah bertemu dengan 1.000 orang lebih dari ulama Hijaz (Makkah dan Madinah), Kufah, Bashrah, Wasith, </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Baghdad</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, Syam dan Mesir….” Kemudian beliau berkata: “Aku tidak melihat adanya perbedaan di antara mereka tentang perkara berikut ini –beliau lalu menyebutkan sekian perkara, di antaranya kewajiban menaati penguasa (dalam hal yang ma’ruf)–.” <strong>(Syarh Ushulil I’tiqad Al-Lalika`i, 1/194-197)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini (riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah di atas, -pen.) terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusa-kan.” <strong>(Fathul Bari, juz 13, hal. 120)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> pembaca yang mulia, dari bahasan di atas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwasanya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam yang harus dipelihara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Syi’ar kebersamaan tersebut akan pudar manakala umat Islam di masing-masing negeri bercerai-berai dalam mengawali dan mengakhiri shaum Ramadhannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ibadah yang bersifat kebersamaan semacam ini keputusannya berada di tangan penguasa umat Islam di masing-masing negeri, bukan di tangan individu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Shaum Ramadhan bersama penguasa dan mayoritas umat Islam merupakan salah satu prinsip agama Islam yang dapat memperkokoh persatuan mereka, baik si penguasa tersebut seorang yang adil ataupun jahat. Karena kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa. Terlebih manakala ketentuannya itu melalui proses ru‘yatul hilal di sejumlah titik negerinya dan sidang-sidang istimewa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Realita membuktikan, bahwa dengan bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas umat Islam) benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, suasana perpecahan di tubuh umat pun demikian mencolok. Yang demikian ini semakin menguatkan akan kewajiban bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas umat Islam).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Wallahu a’lam bish-shawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sumber:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">http://<a href="http://www.asysyariah.com/">www.asysyariah.com</a></span></p>
<h2 style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;font-family:Verdana;"> </span></h2>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Materi Booklet Dakwah Ar-Risalah ( Edisi No.07/Tahun I/1429H/2008M ) Edisi Khusus Ramadhan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Diterbitkan dan dibagikan secara cuma-cuma oleh:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Majelis Taklim &amp; Dakwah Salafiyah, Ahlussunnah Wal Jama’ah Pomalaa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penasehat:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Al Ustadz Abu Ubaidillah Bambang Supriyanto, Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Sutamin<strong> Alamat Redaksi: </strong>Jl. Konggoasa No. 22 Dawi-Dawi Pomalaa Kolaka 93562 Sul-tra.<strong> Mobile Redaksi: </strong>081339633856<strong> Tim Redaksi: </strong>Muhammad Yunus, Abu Umair, </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Zainuddin</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">MN</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, Muhammad Anas.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafypomalaa.wordpress.com/204/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafypomalaa.wordpress.com/204/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafypomalaa.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafypomalaa.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafypomalaa.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafypomalaa.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafypomalaa.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafypomalaa.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafypomalaa.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafypomalaa.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafypomalaa.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafypomalaa.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafypomalaa.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafypomalaa.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafypomalaa.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafypomalaa.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafypomalaa.wordpress.com&amp;blog=4096932&amp;post=204&amp;subd=salafypomalaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/08/30/shaum-puasa-ramadhan-dan-hari-raya-bersama-pemerintah-syi%e2%80%99ar-kebersamaan-umat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/047bc2583d1d02885146a92e02aec1c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salafypomalaa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
